Tuesday, April 27, 2010

Menulis itu (mungkin) mudah, yang (agak) sulit mencari penerbit yang tepat

Sejak kecil, mungkin karena terlahir diurutan ke empat setelah 3 kakak-kakak perempuan yang sangat talkactive, saya cendereung menjadi tipe anak yang pendiam. Mungkin karena itu pula, saya lebih senang mengekspresikan apa yang saya rasakan dan saya pikirkan melalui gambar dan setelah bisa menulis melalui tulisan, daripada melalui bahasa verbal. Dua acara televisi yang tidak pernah saya lewatkan adalah acara menggambar bersama Pak Tino Sidin dan acara “Menulis itu Mudah” bersama Arswendo Atmowiloto, keduanya acara di TVRI (hehehe jaman dulu memang itu satu-satunya program TV yang kita tonton bukan?)
Jaman internet belum ada, saya menulis apa yang saya rasakan dan pikirkan di Jurnal Harian saya (baca : “Diary”). Jurnal-jurnal itu masih saya simpan sampai sekarang (terutama jaman saya masih SMA – kuliah) Lalu sejak ada internet, saya mulai membuat blog di multiply dan blogspot. Sejak ada blog, seolah-olah semua orang menjadi bisa menulis. Orang bisa dengan mudah mencurahkan perasaannya, segala kejadian, perasaan senang, cemas, uneg-uneg, amarah atau pun kritik kepada Pemerintah dan orang –orang terkenal.
Menulis mungkin mudah, tetapi jika kita serius ingin menjadi Penulis Profesional, (dalam artian dari penulis amatir kelas blogspot / multiply/ wordpress ke penulis yang tulisannya diterbitkan penerbit), ada trik dan tip tertentu. Well, mungkin saya belum pas untuk share hal ini, karena toh saya juga baru penulis pemula, yang novelnya baru saja diterbitkan. Tetapi ngga apa-apa kan kalau saya mau berbagi, karena saya tahu bagaimana sulitnya buat seorang penulis amatir, yang sama sekali bukan selebritis, bisa menembus penerbit, dan saya akan senang kalau tulisan saya ini bisa menyemangati teman-teman yang saat ini sedang berjuang supaya tulisannya bisa dibaca oleh banyak penduduk Indonesia dan menjadi penulis terkenal.
Berikut adalah trik dan tips supapay tulisan kita diterbitkan Penerbit :
1. Apa pun yang terjadi, tetaplah menulis. Luangkan waktu minimal 1 jam untuk menulis sesuatu, kecuali saat kita benar-benar sedang kreatif dan mood, tulislah selama ide dari otak habis hehehe
2. Menulis di blog sangat dianjurkan, karena dari situ kita bisa tahu apakah tulisan kita tidak hanya disenangi diri sendiri (ini mah narsis hehehe), gaya penulisan dan bahasanya menarik dan serta banyak penggemar yang rela menghabiskan waktu untuk membaca tulisan kita.
3. Manfaat lain punya blog yg selalu update, trend saat ini banyak Penerbit atau ditor dari media yang mulai rajin melongok ke blog-blog kita para penulis amatir, nah, rajin-rajinlah update memperbarui isi blog kita, dan buatlah sesuai dengan tema dan gaya yang kita sukai. Jangan pernah mencontoh tulisan orang lain atau gaya tulisan penulis terkenal
4. Berkaitan dengan point 2 dan 3, mengingat penghormatan terhadap karya cipta orang lain masih belum cukup tinggi di Indonesia, setiap habis “upload” tulisan kamu ke blog, kirim copy ke email pribadi kamu. Ini untuk antisipasi, jika ada orang yang menjiplak karya tulis kita, kita punya bukti kuat bahwa tulisan di blog kita asli hasil pemikiran kita. (Tulisan saya “Jalan-Jalan Murah ke Eropa, jadi backpacker yuk!” yang saya muat di multiply saya –oceanebleue- dan di website penulis pemula http://www.gagasmedia.com. ternyata dijiplak mentah-mentah oleh pemilik blog http://hajarbos.blogspot.com, si pemilik blog hanya menukar subyek “saya” menjadi “gue”. Lucunya hal ini saya ketahui dari salah satu penerbit yang mengajak saya untuk menulis buku panduan backpack ke Eropa)
5. Facebook & Twitter saat ini adalah situs jaringan sosial terbesar, kalau yakin tulisan kita menarik dan bermanfaat, manfaatkan juga fasilitas yang ada di kedua situs tersebut, misalnya dengan menset link dari multiply atau blog kita ke facebook dan twitter, sehingga setiap kita upload tulisan baru, langsung muncul di FB dan Twitter kita. Manfaatkan juga fasilitas “Notes” di FB, karena banyak editor di perusahaan penerbitan buku mempunyai account FB, dan kadang-kadang, kalau memang jodoh, tulisan kita dibaca mereka. Mungkin saja teman dari teman kita ada yang bekerja di perusahaan penerbit bukan? Ngga ada salahnya untuk mencoba segala jalan 
Ngga berani menjalankan ide point 5 ini? Kalau kamu masih takut tulisan kamu dibajak teman FB atau pengguna FB lain yang kena tag, perhatikan trik/ tip point 4 di atas.
6. Kalau kamu sudah punya naskah, sebelum dikirim ke penerbit, pastikan tulisan kamu benar-benar menarik, dan diketik dengan aturan penulisan yang benar (spasi, pemilihan font, pengetikan tanda-tanda baca, dan lain-lain) mungkin bisa minta bantuan teman-teman yang kamu percaya dan mereka obyektif. (kadang kala karena teman/ saudara, mereka jadi ngga enak hati untuk bilang yang sejujurnya kalau tulisan kamu kurang menarik)
7. Untuk tulisan non fiksi, kamu hanya perlu memberikan konsep tulisan kamu, tujuan tulisan dan siapa calon pembaca / target pemasaran buku kamu, ini juga mempengaruhi gaya bahasa yang harus kamu gunakan nanti.
8. Untuk tulisan fiksi, kamu harus sudah menyelesaikan tulisan kamu (minimal 100 halaman A4) dan synopsis. Plot cerita harus dibuat mengalir dari satu bab ke bab lain
9. Berhubung kita ini bukan seleb, untuk membuat resume yang menarik saat nanti kita mengirim naskah ke penerbit, sehingga bisa menjadi bahan pertimbangan redaksi di pernerbit, ikutilah semua lomba penulisan atau rajin-rajin kirim tulisan ke majalah.
10. Nah sekarang, naskah sudah di tangan, terus langkah selanjutnya kamu harus mulai berburu penerbit. Bagaimana cara mendapatkan kontak penerbit?
a. Datang ke toko-toko buku, jangan malu untuk mencatat semua alamat yang penerbit yang tertulis di halaman belakang buku
b. Kalau agak malas jalan-jalan ke toko buku, bisa search di internet, atau di Facebook (banyak penerbit yang punya fan page)
11. Saat mengirim naskah, kita juga harus pandai meyakinkan editor, bahwa tulisan kita ini ide/ konsepnya bagus dan menarik, dan saat ini sedang trend atau sangat dibutuhkan pembaca Indonesia.
12. Ide kamu harus benar-benar orisinil, dan beda dengan yang ada di pasaran/ toko-toko buku.
13. Sebisa mungkin sih kirim naskah ke penerbit dalam bentuk hard copy, ini untuk mengantisipasi kemungkinan tulisan kamu dibajak editor (yang mungkin menolak, tapi ternyata dia menulis ulang atau menyontek konsep tulisan kamu).
14. Kalau ditolak penerbit, apalagi baru 3 editor yang menolak kamu, jangan langsung patah semangat! Naskah saya, Cinderella in Paris, sempat ditolak 3 penerbit besar, padahal saya sudah semangat DATANG LANGSUNG ke kantor mereka (1 ada yang di Yogyakarta hehehe, niat banget ya).
Saya baru sadar, editor di Indonesia sebagian besar tidak berperan sebagai mentor, apalagi konsultan penulisan. Kalau mereka sudah ngga suka dengan tulisan kita, mereka langsung menolak, tanpa ada masukan apa pun.
Editor sangat subyektif. Kalau cuma ditolak 3 – 5 editor, padahal banyak pembaca blog kamu bilang tulisan kamu menarik, jangan langsung putus asa ya! Tetap usaha kirim naskah sampai kamu ketemu editor yang “click” dengan naskah kamu. (bisa dibilang urusan menemukan penerbit ini sama dengan urusan mencari jodoh, hehehe kalau ini sih masalah saya yang belum nemu jodoh yang tepat) Selera masyarakat Indonesia yang ratusan juta orang dengan latar belakang yang sangat beragam, sangat sulit untuk diperkirakan, jadi tetaplah berusaha mengirim naskah ke penerbit yang punya visi, misi dan gaya bahasa mirip-mirip naskah kamu.
15. Untuk penulis pemula seperti kita ini, jangan terlalu bermimpi langsung mendapatkan kontrak dengan penerbit besar dan ternama. Saat ini kita hanyalah NOBODY, yang ngga dikenal siapa-siapa selain para fan di blog kamu (kecuali kamu selebritis yang kondang). Kalau nemu penerbit yang mau menerbitkan tulisan kita, dan editor ini menghargai konsep dan ide tulisan kita, alias “click”, terima saja tawaran editor itu. Yang penting kan cita-cita kita menjadi penulis professional yang bukunya diterbitkan di seantero Indonesia sudah tercapai. Berdoa saja, kalau sudah ada “nama” di buku kita, dan tulisan kita menjadi best seller, pasti penerbit besar yang dulunya melihat kita sebelah mata akan mengajak kerja sama.
(baru-baru ini saya dihubungi lagi oleh editor dari anak perusahaan penerbit besar, yang dulu, waktu Novel saya Cinderella In Paris belum terbit, seolah-olah ogah-ogahan menerima naskah non fiksi saya tentang panduan terlengkap backpacking ke Eropa, mudah-mudahan project ini goal ya, amin)
16. Nah sepertinya segala trick dan tips sudah saya sebutkan semua. Akhirnya, sebagai orang yang percaya TUHAN berperan dalam setiap bagian cerita hidup kita, saran terakhir saya adalah, teruslah berdoa, semoga Tuhan merestui niat kita untuk menjadi penulis. Saya dulu menulis novel CIP, karena saya ingin menghibur teman-teman seperjuangan yang masih lajang, dan ingin mengubah pandangan masyarakat terhadap para lajang berusian 30 tahunan (terutama wanita), dan saya berdoa kepada Tuhan, semoga novel saya ini bisa dibaca banyak orang, sehingga saya bisa menghibur banyak orang dengan novel saya.
Moga-moga bermanfaat buat teman-teman yang mempunyai mimpi suatu saat tulisannya akan dibaca banyak orang dan terpajang di rak-rak toko buku Gramedia dan toko buku lainnya. Kalau memang kamu punya bakat, tulisan kamu bagus, dan ada “pesan” yang ingin kamu sampaikan ke pembaca Indonesia, teruslah bermimpi. Konsisten pada mimpi kamu, dan jangan berhenti menulis.

Salam sukses !
Sari Musdar untuk fan page Cinderella in Paris
27 April 2010


Monday, April 19, 2010

SEKALI BERKERETA KE SYDNEY, PULAU MANLY TERLAMPAUI

Siapa yang tidak tahu atau tidak pernah mendengar gedung Sydney Opera dan Jembatan Harbour di Sydney Australia? Semua orang yang bermimpi untuk mengunjungi kota terbesar di benua selatan Indonesia ini pasti ingin melihat gedung yang menjadi landmark kota tertua di Australia. Seolah-olah belum ke Sydney kalau belum berfoto di depan kedua icon Sydney tersebut. Gedung Opera Sydney yang bentuknya unik seperti keong dibangun oleh arsitek Denmark Jorn Utzon dan dibuka untuk umum sejak tahun 1973, sedangkan jembatan baja berbentuk busur terbesar di dunia, yang bernama jembatan Harbour yang dikenal oleh orang-orang lokal sebagai "The Coathanger" dibuka jauh lebih dahulu sejak tahun 1932. Tetapi tunggu dulu, kali ini saya tidak ingin membahas landmark kota Sydney, saya lebih tertarik bercerita ingin sedikit tentang Pulau Manly.


Kebetulan saya berkesempatan mengunjungi Sydney di akhir bulan Februari 2009, setelah kursus saya di Melbourne selesai. Saya berangkat dari Melbourne dengan kereta country link dari Stasiun Southern Cross. Tadinya sih sempat mengutuki diri sendiri karena telat memesan tiket pesawat Jetstar. Bayangkan saja, untuk harga yang jauh lebih murah dari tiket kereta sebesar 68 Dollar Australia, jika saya naik Jetstar (Australian flight budget), hanya memakan waktu 1 jam, dengan kereta, terpaksa pantat saya harus bermesraan dengan kursi selama 10 jam. Bisa dibayangkan di dalam kereta, dua jam pertama saya sibuk mencari beberapa posisi wuenak , dan itu berlanjut dalam interval 2 jam-an.

Berada di dalam kereta selama 10 jam yang melewati kawasan kering seperti gurun berbatu, sabana, pedesaan dengan sapi-sapi dan kuda, membawa pikiran saya melayang-layang ke film-film cowboy Amerika, apalagi beberapa kali kereta berhenti di stasiun tertentu yang namanya unik (dari bahasa Aborigin) dan susah dihapal, dengan bangunan yang arsitekturnya kuno.


Tiba di Stasiun Sydney Central jam 8 malam, saya harus naik kereta/ subway ke Stasiun Kingscross, karena saya sudah memesan online di hostelworld.com satu tempat tidur di Hostel Backpackers Headquarter. Kingscross sebenarnya tidak terlalu jauh dari ibukota NSW (New South Wales), hanya sekitar 2 stasiun dari Stasiun Sydney Central, dan hanya menempuh waktu tidka lebih dari 7 menit dengan kereta. Semula kakak ipar saya yang asli orang sana, kaget dan mengkhawatirkan saya. Saya, perempuan Asia, berbadan kecil dan berwajah polos, menginap di kawasan yang terkenal sebagai Red Light Districtnya NSW? Tetapi dengan santainya saya berkata, “Well, jika saya bisa menaklukan Red Light District di Amsterdam 4 tahun lalu, dan selamat kembali ke Indonesia sekalipun sempat ditraktir ini itu oleh germo sana, berarti saya bisa tinggal di kawasan remang-remang Kingscross. Lagi pula saya hanya menginap 2 malam.” Kakak dan suaminya hanya tertawa.

Saat tiba dari stasiun Kingscross, saya sempatkan melihat kawasan red light sebelum melihat hostel yang berjarak 5 menit jalan kaki dari stasiun subway. Para pelacur, preman penjaga club tarian erotic dan para pelaku hiburan malam sudah berjajar menawarkan pelayanan mereka. Klub-klub kemaksiatan itu berbaur dengan CafĂ©, Resto dan warnet yang dijaga imigran keturunan China. Pemandangan di sini mirip adegan awal film “Pretty Woman”, saat Julia Robert mencari calon pelanggan di pinggir jalan.


Aih, pemandangan yang saya lihat sungguh berbeda dengan Red light District Amsterdam. Di Amsterdam, saya hanya melihat para PSK remaja yang cantik-cantik dan berbadan sexy serta langsing di dalam “akuarium”. Di Kingscross, saya melihat juga mereka yang berbadan gemuk besar dan sudah tidak muda memamerkan asset mereka tanpa malu di pinggir jalan. Untunglah saat menikmati roti burger di Mac Donald, saya sudah melupakan pemandangan yang baru saja saya lihat tadi, sehingga tidak mengganggu selera makan saya hehehe. Oh iya, info penting, Mac Donald di sini ada wifinya lho.

Karena hanya punya waktu 2 hari, saya benar-benar memanfaatkan waktu dengan baik. Pagi itu saya sudah merencanakan tempat - tempat yang akan saya kunjungi dalam waktu 1 hari ini di Sydney. Sesuai dengan rekomendasi yg diberikan Hostelworld apa yg harus dilakukan jika hanya punya waktu 1 hari ke Sydney.
Saya sempat basa-basi mengobrol sejenak dengan teman satu kamar, Paula gadis remaja Jerman yang baru lulus SMA, Gaby mahasiswi Polandia, satu orang backpacker Irlandia yang kelihatan resah karena uangnya sudah menipis dan belum mendapatkan pekerjaan setelah mengunjungi beberapa distro siang tadi, dan satu lagi mahasiswi baru lulus dari Slovenia. Jam 9.00 saya berangkat dari Hostel setelah menikmati sarapan ala kadarnya roti, sereal dan susu (ala kadarnya jika saya bandingkan dengan hostel di Eropa, tapi cukup masuk akal, karena ratenya yang setengah dari rate hostel di Eropa pada umumnya, tetapi yang penting hostel ini ada wifi). Saya tidak langsung pergi ke Sydney, tapi dengan berjalan kaki saya menapaki lagi red light menuju Elisabeth Bay House. Sayangnya Museum/ Elisabeth Bay House ini hanya dibuka pada hari Jumat jam 10.00, ah itu jam kepulangan saya ke Melbourne besok.


Dari kawasan Elisabeth Bay, saya naik bis yang membawa saya ke pelabuhan/ Darling Harbor. Sempat melihat bangunan unik dari balik kaca bis, dengan tiang-tiang tembok kurus tinggi seperti obelisk di depan gedung, persis seperti obelisk Mesir yang terpancang tegak diantara La Concorde dan taman Tuileries di kota Paris, tetapi ujungnya tidak meruncing. Ah setelah bis mendekat, barulah saya bisa membaca tulisan di depan gedung itu. Ternyata gedung unik itu bernama Museum of Art.


Tiba di Circular Quay jam 10 pagi saya sempatkan untuk melihat-lihat The Rock, kawasan peninggalan sejarah bangsa Australia di kota Sydney di sekitar Jalan Harrington dan sekitarnya. Saya puaskan diri memotret gedung-gedung tua yang dibangun sejak tahun 1788 (pertama kali koloni barat mendarat di Australia, yang diperingati sebagai “Australian Day”) oleh batu-batu yang ada di kawasan itu, dari sinilah nama The Rock berasal (bukan dari nama pegulat Amerika Serikat itu lho ). Di kawasan The Rock terdapat gedung Pusat Informasi Turis, dimana kita bisa mendapatkan informasi wisata Sydney dan sekitarnya serta membeli tiket masuk obyek wisata.


Dari The Rock, saya tidak latah seperti turis-turis pada umumnya. Saya abaikan Gedung Opera, demi melihat Manly, pulau yang kata brosur-brosur wisata lebih menarik dibandingkan pantai Bondy di pinggiran kota Sydney yang terkenal itu (bahkan di Australia, pantai ini mempunyai acara TV sendiri). Untuk ke Manly saya harus naik ferry, yang saya hitung-hitung lebih murah jika saya membeli tiket daily tripper. Dengan tiket ini, saya bisa pulang pergi naik ferry plus tiket bis dalam kota selama sehari seharga 17,5 Dollar. Jauh lebih murah jika saya beli tiket sekali jalan. Ferry ke Manly berangkat setiap 30 menit sekali, dan lama perjalanan memakan waktu 30 menit. Dari atas ferry, saya bisa mendapatkan sudut –sudut terbaik dan terdekat untuk memotret Gedung Opera yang tersohor itu.


Dahulu pulau ini merupakan pusat karantina para imigran yg datang di Pelabuhan Sydney sejak tahun 1830 – 1984, sebelum akhirnya diubah menjadi obyek wisata di pantai utara Sydney. Apa yang bisa dilakukan di Pulau Manly? Selain bersepeda, bermain di pantai, berjalan menyusuri Scenic Way sambil menikmati pemandangan sisi pantai yang berbatu-batu (di bagian ini tidak dibolehkan berenang), kita juga bisa melihat Museum Seni (yang ini gratis akses masuknya), berbelanja, berenang di sisi pantai-pantai yang lain, menikmati keindahan pemandangan alam di sini yang sangat dijaga kebersihan dan keberagaman hayatinya, snorkeling, atau melihat keberagaman ekosistem laut sekitar Manly di Ocean World. Di Ocean World, selain bisa melihat giant stingrays, kura-kura laut dan ratusan hewan laut, kita juga bisa menyelam bersama petugas di sana.
Manly yang terletak 7 mil arah timur laut dari Sydney, mempunyai 22 pantai yang masih terjaga keasriannya. Cara terbaik untuk menjelajahi setiap sisi dari kota pantai terindah di Sydney ini adalah dengan bersepeda.

Manly menyediakan jalur untuk pengguna sepeda sepanjang 20 km yang terpisah dari jalan mobil sehingga peseda tetap bisa nyaman menikmati keindahan pulau mungil ini.
Manly mempunyai 5 tempat popular yang dapat disinggahi dengan sepeda :
1. North Head : kelebihan tempat yang satu ini, tempat yang tepat untuk menghilangkan kepenatan, pemandangan yang indah, dan melihat paus di bulan Juni-Juli, dan Oktober-November)
2. The Ocean beach front : tempat terbaik untuk bersepeda sekeluarga dengan pemandangan Laguna Manly & di ujung pantai selatan terdapat pantai Shelly yang sangat baik untuk snorkling
3. The Manly Cove, Harbour side : di akhir jalur sepeda ini terdapat SItus tambang gas yang terkenal untuk piknik keluarga
4. Manly Dam : jalur sepeda yang berbukit-bukit dan dam yang sangat pas untuk piknik atau memancing
5. Freshwater Beach & beyond



Tempat penyewaan sepeda : Manly Cicles & Manly Bike Tours (untuk 1 jam 14 AUS D, 2 jam 24 AUS D). Untuk makan, ada beragam pilihan dari yang termurah sampai mahal. Kalau mau hemat bisa ke Mac Donald, atau ke Subway yang selain lebih murah dari Mac D, rasanya juga lumayan (dengan uang 3 dollar kita bisa mendapat burger besar, tetapi untuk yang muslim, lebih baik pilih isi tuna). Untuk souvenir, jauh lebih murah jika kita membeli di toko-toko souvenir di sini daripada di Sydney atau Melbourne. Dengan uang 1 Dollar, kita bisa membeli boneka kangguru dan koala ukuran sedang.
Nah pulang dari Manly, jam 15.00, saya baru melihat dan memotret The Harbour beserta jembatannya, dan melihat kota Sydney untuk memotret bangunan-bangunan yang berarsitektur unik.

Sari Musdar

Friday, April 16, 2010

Info Buku Baru : Cinderella in Paris

Info Buku

Judul : Cinderella in Paris
Penulis : Sari Musdar
Penerbit : Human Books
Distributor : Gramedia
Tebal : 304 halaman

SINOPSIS
CINDERELLA IN PARIS

Cerita ini bukanlah cerita Cinderella biasa. Ini kisah sepenggal kehidupan seorang perempuan yang beralih ke masa dewasa dalam usaha pencapaian kebahagiaan.

Di usianya yang menginjak dua puluh delapan tahun, Saras Ratiban baru menyadari status single ternyata kurang menguntungkan di masyarakat Indonesia. Berdasarkan fakta temuannya itu dan data statistik usia menikah di keluarganya, takut dicap perawan tua, Saras berusaha dengan segala cara, baik cara yang masuk akal yang ia pelajari dari majalah-majalah wanita maupun cara-cara yang di luar nalarnya sebagai perempuan yang selalu berpikir logis.

Tiga tahun setelah usahanya yang cukup gigih tanpa ada tanda-tanda keberhasilan, dia berada dalam puncak kejenuhan. Saras memutuskan untuk memulai perjalanan sebagai backpacker ke Eropa bersama sahabat yang baru dikenalnya satu tahun terakhir di tempat kursus. Perjalanan itu benar-benar intermezzo dalam hidupnya yang menyenangkan dan penuh petualangan, setidaknya sebelum sahabatnya Vanny berubah menjadi frenemy, teman tapi musuh. Di tengah kesedihan karena dikhianati seseorang yang selama setahun menjadi tempat curhatnya itu, secara tidak sengaja saat berusaha menghindar dari kejaran pelukis jalanan di Montmartre, dia melakukan tindakan nekat yang membuatnya bertemu dengan seseorang lelaki impiannya.
Apakah setelah kisah cinta yang berliku-liku dan perjalanan ke berbagai tempat Saras berhasil melewati tekanan sosial masyarakat Indonesia dan menemukan cinta sejati?


ENDORSEMENT
"Udah baca, asik banget!! Kita semua dalam beberapa titik di kehidupan ini merasakan hal yg sama. So, sangat involve bgt jdnya pas membaca hehe"
Rudi Soedjarwo – Sutradara Terkenal Indonesia (Ada apa dengan cinta)
“Novel ini mengajak pembacanya memahami perjuangan seorang perempuan muda untuk menemukan cintanya. Pun memberi semangat buat perempuan muda lainnya yang masih harus berjuang menemukan cintanya. Bahwa, setiap detik dalam hidup adalah perjuangan termasuk untuk urusan cinta.” Genuk Ch. Lazuardi, ibu rumah tangga, mantan wartawan senior “Warta Ekonomi”, dan penulis buku “Maumu Apa Malaysia”, tinggal di Kuala Lumpur
Sari Musdar’s novel, Cinderella in Paris, has all the makings of a twenty-first century romantic comedy. It may become just another charming story about Paris, delighting the readers of Indonesia. Yet it may go farther, seeping deep into the mythic fabric of our literary history, enchanting readers for centuries to come, just like the first tales of the brave “Cendrillon”—little “Cinderella.”
Roman Payne, Novelis Perancis, pengarang beberapa novel antara lain “Rooftop Soliloquy” dan “Hope and Despair”

Penuturan yang ceria, membawa emosi dan bahasa yang ringan. Rasanya seperti Sari Musdar sedang menceritakan secara langsung Cinderella in Paris kepada pembacanya. I really enjoy reading it!
Buku ini tentang percakapan (dan pertarungan) bathin yang banyak dirasakan oleh perempuan Indonesia modern, yang di satu sisi mandiri, dan di sisi lain dituntut oleh nilai tradisional yang sangat kuat. Sehingga dalam hati sering terusik, “Apakah hal ini yang aku inginkan, atau hanya karena tuntutan sosial?”. Seperti Saras Ratiban, sang tokoh utama, yang mencari kebahagiaan jauh sampai ke Paris, ternyata adanya dekaaaat sekali, yaitu di dalam hati dirinya sendiri.
Cinderella in Paris sungguh sangat menghibur untuk dibaca, baik oleh para wanita single maupun married yang mulai lupa rasanya PDKT (pendekatan), terutama bagi para perempuan Indonesia modern yang sering merasa terjebak dalam lorong waktu. Fully recommended book!

Safitri Siswono, penulis buku “Big Dream Big Success: Sukses Memulai dan Menjalankan Bisnis dari Bangku Kuliah”, Direktur Utama pada salah satu perusahaan di Kelompok Usaha Bangun Tjipta.

Buku ini seperti parodi si single yang tersusun rapi dan menarik dalam sebuah cerita yang naik turun menegangkan, tentu saja karena ceritanya banyak terinspirasi dari kejadian sehari-hari kehidupan penulis yang lucu, menghibur, tragis dan penuh makna. Ketika membacanya lembar per lembar makin penasaran ingin tahu kisah akhir petualangan Saras.

Nuni berger, penulis & kolumnis di OZIP Magazine, Melbourne, mantan editor di Kompas Gramedia Group & penulis bersama “Nikah Sama Bule”

'Membaca novel Cinderella in Paris ini akan membuat Anda senang. Mulai dari awal hingga akhir kisah sungguh alur yang kuat. Baca novel ini maka Anda akan diberi kejutan yang indah."

Hartati Nurwijaya; Penulis buku Perkawinan Antarbangsa Love and Shock, Hidangan Favorit ala Mediterania, Bahaya Alkohol dan Cara Mencegah Kecanduannya, 100 Questions and Answer Kanker Serviks, tinggal di Yunani

Tips Backpack ke Eropa (bagian 1)

Yang harus disiapkan sebelum backpack ke luar negeri :
1. Dokumen perjalanan (paspor dan atau visa)
2. Tempat liburan/ itinerary
3. Budget
4. Book tempat penginapan (jika tidak punya saudara/ teman di sana/ couchsurfing)
5. Transportasi (pesawat dan kereta/ bus selama di sana)
6. Siapkan daftar packing list
Tips aman saat berjalan-jalan di tempat wisata
• Saat pertama kali tiba di bandara atau stasiun kereta, tanya pada petugas petunjuk arah dan kereta untuk bisa mencapai hostel tempat anda menginap. Lebih baik rajin bertanya dari pada tersesat bukan?
• Pelajari buku petunjuk atau peta kereta/ metro yang disediakan di stasiun (gratis)
• Untuk menghemat, tanyakan di loket apakah ada paket tiket untuk turis yang berlaku untuk jangka waktu tertentu. Di Eropa Barat terdapat paket tiket kereta untuk tiga hari, paket murah week-end, atau paket 10 kali jalan yang jauh lebih murah jika anda membeli one-way tiket.
• Kalau anda membawa tas ransel, jangan ditaruh di punggung, dokumen penting, kartu kredit dan uang dalam jumlah besar lebih baik ditaruh di tas pinggang atau kantung kecil di dalam baju /body wallet (anda bisa menyiapkan kantung kecil dari bahan katun dengan tali yang bisa diselempangkan di dalam baju)
• Jika anda membawa cukup banyak uang untuk dana selama bepergian di sana, saat berjalan-jalan di kota yang anda kunjungi, bawalah uang untuk keperluan hari itu, selebihnya bisa anda titipkan pada petugas di safe deposit, atau cukup bawa kartu atm dan kartu kredit.