Siapa yang tidak tahu atau tidak pernah mendengar gedung Sydney Opera dan Jembatan Harbour di Sydney Australia? Semua orang yang bermimpi untuk mengunjungi kota terbesar di benua selatan Indonesia ini pasti ingin melihat gedung yang menjadi landmark kota tertua di Australia. Seolah-olah belum ke Sydney kalau belum berfoto di depan kedua icon Sydney tersebut. Gedung Opera Sydney yang bentuknya unik seperti keong dibangun oleh arsitek Denmark Jorn Utzon dan dibuka untuk umum sejak tahun 1973, sedangkan jembatan baja berbentuk busur terbesar di dunia, yang bernama jembatan Harbour yang dikenal oleh orang-orang lokal sebagai "The Coathanger" dibuka jauh lebih dahulu sejak tahun 1932. Tetapi tunggu dulu, kali ini saya tidak ingin membahas landmark kota Sydney, saya lebih tertarik bercerita ingin sedikit tentang Pulau Manly.
Kebetulan saya berkesempatan mengunjungi Sydney di akhir bulan Februari 2009, setelah kursus saya di Melbourne selesai. Saya berangkat dari Melbourne dengan kereta country link dari Stasiun Southern Cross. Tadinya sih sempat mengutuki diri sendiri karena telat memesan tiket pesawat Jetstar. Bayangkan saja, untuk harga yang jauh lebih murah dari tiket kereta sebesar 68 Dollar Australia, jika saya naik Jetstar (Australian flight budget), hanya memakan waktu 1 jam, dengan kereta, terpaksa pantat saya harus bermesraan dengan kursi selama 10 jam. Bisa dibayangkan di dalam kereta, dua jam pertama saya sibuk mencari beberapa posisi wuenak , dan itu berlanjut dalam interval 2 jam-an.
Berada di dalam kereta selama 10 jam yang melewati kawasan kering seperti gurun berbatu, sabana, pedesaan dengan sapi-sapi dan kuda, membawa pikiran saya melayang-layang ke film-film cowboy Amerika, apalagi beberapa kali kereta berhenti di stasiun tertentu yang namanya unik (dari bahasa Aborigin) dan susah dihapal, dengan bangunan yang arsitekturnya kuno.
Tiba di Stasiun Sydney Central jam 8 malam, saya harus naik kereta/ subway ke Stasiun Kingscross, karena saya sudah memesan online di hostelworld.com satu tempat tidur di Hostel Backpackers Headquarter. Kingscross sebenarnya tidak terlalu jauh dari ibukota NSW (New South Wales), hanya sekitar 2 stasiun dari Stasiun Sydney Central, dan hanya menempuh waktu tidka lebih dari 7 menit dengan kereta. Semula kakak ipar saya yang asli orang sana, kaget dan mengkhawatirkan saya. Saya, perempuan Asia, berbadan kecil dan berwajah polos, menginap di kawasan yang terkenal sebagai Red Light Districtnya NSW? Tetapi dengan santainya saya berkata, “Well, jika saya bisa menaklukan Red Light District di Amsterdam 4 tahun lalu, dan selamat kembali ke Indonesia sekalipun sempat ditraktir ini itu oleh germo sana, berarti saya bisa tinggal di kawasan remang-remang Kingscross. Lagi pula saya hanya menginap 2 malam.” Kakak dan suaminya hanya tertawa.
Saat tiba dari stasiun Kingscross, saya sempatkan melihat kawasan red light sebelum melihat hostel yang berjarak 5 menit jalan kaki dari stasiun subway. Para pelacur, preman penjaga club tarian erotic dan para pelaku hiburan malam sudah berjajar menawarkan pelayanan mereka. Klub-klub kemaksiatan itu berbaur dengan Café, Resto dan warnet yang dijaga imigran keturunan China. Pemandangan di sini mirip adegan awal film “Pretty Woman”, saat Julia Robert mencari calon pelanggan di pinggir jalan.
Aih, pemandangan yang saya lihat sungguh berbeda dengan Red light District Amsterdam. Di Amsterdam, saya hanya melihat para PSK remaja yang cantik-cantik dan berbadan sexy serta langsing di dalam “akuarium”. Di Kingscross, saya melihat juga mereka yang berbadan gemuk besar dan sudah tidak muda memamerkan asset mereka tanpa malu di pinggir jalan. Untunglah saat menikmati roti burger di Mac Donald, saya sudah melupakan pemandangan yang baru saja saya lihat tadi, sehingga tidak mengganggu selera makan saya hehehe. Oh iya, info penting, Mac Donald di sini ada wifinya lho.
Karena hanya punya waktu 2 hari, saya benar-benar memanfaatkan waktu dengan baik. Pagi itu saya sudah merencanakan tempat - tempat yang akan saya kunjungi dalam waktu 1 hari ini di Sydney. Sesuai dengan rekomendasi yg diberikan Hostelworld apa yg harus dilakukan jika hanya punya waktu 1 hari ke Sydney.
Saya sempat basa-basi mengobrol sejenak dengan teman satu kamar, Paula gadis remaja Jerman yang baru lulus SMA, Gaby mahasiswi Polandia, satu orang backpacker Irlandia yang kelihatan resah karena uangnya sudah menipis dan belum mendapatkan pekerjaan setelah mengunjungi beberapa distro siang tadi, dan satu lagi mahasiswi baru lulus dari Slovenia. Jam 9.00 saya berangkat dari Hostel setelah menikmati sarapan ala kadarnya roti, sereal dan susu (ala kadarnya jika saya bandingkan dengan hostel di Eropa, tapi cukup masuk akal, karena ratenya yang setengah dari rate hostel di Eropa pada umumnya, tetapi yang penting hostel ini ada wifi). Saya tidak langsung pergi ke Sydney, tapi dengan berjalan kaki saya menapaki lagi red light menuju Elisabeth Bay House. Sayangnya Museum/ Elisabeth Bay House ini hanya dibuka pada hari Jumat jam 10.00, ah itu jam kepulangan saya ke Melbourne besok.
Dari kawasan Elisabeth Bay, saya naik bis yang membawa saya ke pelabuhan/ Darling Harbor. Sempat melihat bangunan unik dari balik kaca bis, dengan tiang-tiang tembok kurus tinggi seperti obelisk di depan gedung, persis seperti obelisk Mesir yang terpancang tegak diantara La Concorde dan taman Tuileries di kota Paris, tetapi ujungnya tidak meruncing. Ah setelah bis mendekat, barulah saya bisa membaca tulisan di depan gedung itu. Ternyata gedung unik itu bernama Museum of Art.
Tiba di Circular Quay jam 10 pagi saya sempatkan untuk melihat-lihat The Rock, kawasan peninggalan sejarah bangsa Australia di kota Sydney di sekitar Jalan Harrington dan sekitarnya. Saya puaskan diri memotret gedung-gedung tua yang dibangun sejak tahun 1788 (pertama kali koloni barat mendarat di Australia, yang diperingati sebagai “Australian Day”) oleh batu-batu yang ada di kawasan itu, dari sinilah nama The Rock berasal (bukan dari nama pegulat Amerika Serikat itu lho ). Di kawasan The Rock terdapat gedung Pusat Informasi Turis, dimana kita bisa mendapatkan informasi wisata Sydney dan sekitarnya serta membeli tiket masuk obyek wisata.
Dari The Rock, saya tidak latah seperti turis-turis pada umumnya. Saya abaikan Gedung Opera, demi melihat Manly, pulau yang kata brosur-brosur wisata lebih menarik dibandingkan pantai Bondy di pinggiran kota Sydney yang terkenal itu (bahkan di Australia, pantai ini mempunyai acara TV sendiri). Untuk ke Manly saya harus naik ferry, yang saya hitung-hitung lebih murah jika saya membeli tiket daily tripper. Dengan tiket ini, saya bisa pulang pergi naik ferry plus tiket bis dalam kota selama sehari seharga 17,5 Dollar. Jauh lebih murah jika saya beli tiket sekali jalan. Ferry ke Manly berangkat setiap 30 menit sekali, dan lama perjalanan memakan waktu 30 menit. Dari atas ferry, saya bisa mendapatkan sudut –sudut terbaik dan terdekat untuk memotret Gedung Opera yang tersohor itu.
Dahulu pulau ini merupakan pusat karantina para imigran yg datang di Pelabuhan Sydney sejak tahun 1830 – 1984, sebelum akhirnya diubah menjadi obyek wisata di pantai utara Sydney. Apa yang bisa dilakukan di Pulau Manly? Selain bersepeda, bermain di pantai, berjalan menyusuri Scenic Way sambil menikmati pemandangan sisi pantai yang berbatu-batu (di bagian ini tidak dibolehkan berenang), kita juga bisa melihat Museum Seni (yang ini gratis akses masuknya), berbelanja, berenang di sisi pantai-pantai yang lain, menikmati keindahan pemandangan alam di sini yang sangat dijaga kebersihan dan keberagaman hayatinya, snorkeling, atau melihat keberagaman ekosistem laut sekitar Manly di Ocean World. Di Ocean World, selain bisa melihat giant stingrays, kura-kura laut dan ratusan hewan laut, kita juga bisa menyelam bersama petugas di sana.
Manly yang terletak 7 mil arah timur laut dari Sydney, mempunyai 22 pantai yang masih terjaga keasriannya. Cara terbaik untuk menjelajahi setiap sisi dari kota pantai terindah di Sydney ini adalah dengan bersepeda.
Manly menyediakan jalur untuk pengguna sepeda sepanjang 20 km yang terpisah dari jalan mobil sehingga peseda tetap bisa nyaman menikmati keindahan pulau mungil ini.
Manly mempunyai 5 tempat popular yang dapat disinggahi dengan sepeda :
1. North Head : kelebihan tempat yang satu ini, tempat yang tepat untuk menghilangkan kepenatan, pemandangan yang indah, dan melihat paus di bulan Juni-Juli, dan Oktober-November)
2. The Ocean beach front : tempat terbaik untuk bersepeda sekeluarga dengan pemandangan Laguna Manly & di ujung pantai selatan terdapat pantai Shelly yang sangat baik untuk snorkling
3. The Manly Cove, Harbour side : di akhir jalur sepeda ini terdapat SItus tambang gas yang terkenal untuk piknik keluarga
4. Manly Dam : jalur sepeda yang berbukit-bukit dan dam yang sangat pas untuk piknik atau memancing
5. Freshwater Beach & beyond
Tempat penyewaan sepeda : Manly Cicles & Manly Bike Tours (untuk 1 jam 14 AUS D, 2 jam 24 AUS D). Untuk makan, ada beragam pilihan dari yang termurah sampai mahal. Kalau mau hemat bisa ke Mac Donald, atau ke Subway yang selain lebih murah dari Mac D, rasanya juga lumayan (dengan uang 3 dollar kita bisa mendapat burger besar, tetapi untuk yang muslim, lebih baik pilih isi tuna). Untuk souvenir, jauh lebih murah jika kita membeli di toko-toko souvenir di sini daripada di Sydney atau Melbourne. Dengan uang 1 Dollar, kita bisa membeli boneka kangguru dan koala ukuran sedang.
Nah pulang dari Manly, jam 15.00, saya baru melihat dan memotret The Harbour beserta jembatannya, dan melihat kota Sydney untuk memotret bangunan-bangunan yang berarsitektur unik.
Sari Musdar
Facebook Badge
Monday, April 19, 2010
Friday, April 16, 2010
Info Buku Baru : Cinderella in Paris
Info Buku
Judul : Cinderella in Paris
Penulis : Sari Musdar
Penerbit : Human Books
Distributor : Gramedia
Tebal : 304 halaman
SINOPSIS
CINDERELLA IN PARIS
Cerita ini bukanlah cerita Cinderella biasa. Ini kisah sepenggal kehidupan seorang perempuan yang beralih ke masa dewasa dalam usaha pencapaian kebahagiaan.
Di usianya yang menginjak dua puluh delapan tahun, Saras Ratiban baru menyadari status single ternyata kurang menguntungkan di masyarakat Indonesia. Berdasarkan fakta temuannya itu dan data statistik usia menikah di keluarganya, takut dicap perawan tua, Saras berusaha dengan segala cara, baik cara yang masuk akal yang ia pelajari dari majalah-majalah wanita maupun cara-cara yang di luar nalarnya sebagai perempuan yang selalu berpikir logis.
Tiga tahun setelah usahanya yang cukup gigih tanpa ada tanda-tanda keberhasilan, dia berada dalam puncak kejenuhan. Saras memutuskan untuk memulai perjalanan sebagai backpacker ke Eropa bersama sahabat yang baru dikenalnya satu tahun terakhir di tempat kursus. Perjalanan itu benar-benar intermezzo dalam hidupnya yang menyenangkan dan penuh petualangan, setidaknya sebelum sahabatnya Vanny berubah menjadi frenemy, teman tapi musuh. Di tengah kesedihan karena dikhianati seseorang yang selama setahun menjadi tempat curhatnya itu, secara tidak sengaja saat berusaha menghindar dari kejaran pelukis jalanan di Montmartre, dia melakukan tindakan nekat yang membuatnya bertemu dengan seseorang lelaki impiannya.
Apakah setelah kisah cinta yang berliku-liku dan perjalanan ke berbagai tempat Saras berhasil melewati tekanan sosial masyarakat Indonesia dan menemukan cinta sejati?
ENDORSEMENT
"Udah baca, asik banget!! Kita semua dalam beberapa titik di kehidupan ini merasakan hal yg sama. So, sangat involve bgt jdnya pas membaca hehe"
Rudi Soedjarwo – Sutradara Terkenal Indonesia (Ada apa dengan cinta)
“Novel ini mengajak pembacanya memahami perjuangan seorang perempuan muda untuk menemukan cintanya. Pun memberi semangat buat perempuan muda lainnya yang masih harus berjuang menemukan cintanya. Bahwa, setiap detik dalam hidup adalah perjuangan termasuk untuk urusan cinta.” Genuk Ch. Lazuardi, ibu rumah tangga, mantan wartawan senior “Warta Ekonomi”, dan penulis buku “Maumu Apa Malaysia”, tinggal di Kuala Lumpur
Sari Musdar’s novel, Cinderella in Paris, has all the makings of a twenty-first century romantic comedy. It may become just another charming story about Paris, delighting the readers of Indonesia. Yet it may go farther, seeping deep into the mythic fabric of our literary history, enchanting readers for centuries to come, just like the first tales of the brave “Cendrillon”—little “Cinderella.”
Roman Payne, Novelis Perancis, pengarang beberapa novel antara lain “Rooftop Soliloquy” dan “Hope and Despair”
Penuturan yang ceria, membawa emosi dan bahasa yang ringan. Rasanya seperti Sari Musdar sedang menceritakan secara langsung Cinderella in Paris kepada pembacanya. I really enjoy reading it!
Buku ini tentang percakapan (dan pertarungan) bathin yang banyak dirasakan oleh perempuan Indonesia modern, yang di satu sisi mandiri, dan di sisi lain dituntut oleh nilai tradisional yang sangat kuat. Sehingga dalam hati sering terusik, “Apakah hal ini yang aku inginkan, atau hanya karena tuntutan sosial?”. Seperti Saras Ratiban, sang tokoh utama, yang mencari kebahagiaan jauh sampai ke Paris, ternyata adanya dekaaaat sekali, yaitu di dalam hati dirinya sendiri.
Cinderella in Paris sungguh sangat menghibur untuk dibaca, baik oleh para wanita single maupun married yang mulai lupa rasanya PDKT (pendekatan), terutama bagi para perempuan Indonesia modern yang sering merasa terjebak dalam lorong waktu. Fully recommended book!
Safitri Siswono, penulis buku “Big Dream Big Success: Sukses Memulai dan Menjalankan Bisnis dari Bangku Kuliah”, Direktur Utama pada salah satu perusahaan di Kelompok Usaha Bangun Tjipta.
Buku ini seperti parodi si single yang tersusun rapi dan menarik dalam sebuah cerita yang naik turun menegangkan, tentu saja karena ceritanya banyak terinspirasi dari kejadian sehari-hari kehidupan penulis yang lucu, menghibur, tragis dan penuh makna. Ketika membacanya lembar per lembar makin penasaran ingin tahu kisah akhir petualangan Saras.
Nuni berger, penulis & kolumnis di OZIP Magazine, Melbourne, mantan editor di Kompas Gramedia Group & penulis bersama “Nikah Sama Bule”
'Membaca novel Cinderella in Paris ini akan membuat Anda senang. Mulai dari awal hingga akhir kisah sungguh alur yang kuat. Baca novel ini maka Anda akan diberi kejutan yang indah."
Hartati Nurwijaya; Penulis buku Perkawinan Antarbangsa Love and Shock, Hidangan Favorit ala Mediterania, Bahaya Alkohol dan Cara Mencegah Kecanduannya, 100 Questions and Answer Kanker Serviks, tinggal di Yunani
Judul : Cinderella in Paris
Penulis : Sari Musdar
Penerbit : Human Books
Distributor : Gramedia
Tebal : 304 halaman
SINOPSIS
CINDERELLA IN PARIS
Cerita ini bukanlah cerita Cinderella biasa. Ini kisah sepenggal kehidupan seorang perempuan yang beralih ke masa dewasa dalam usaha pencapaian kebahagiaan.
Di usianya yang menginjak dua puluh delapan tahun, Saras Ratiban baru menyadari status single ternyata kurang menguntungkan di masyarakat Indonesia. Berdasarkan fakta temuannya itu dan data statistik usia menikah di keluarganya, takut dicap perawan tua, Saras berusaha dengan segala cara, baik cara yang masuk akal yang ia pelajari dari majalah-majalah wanita maupun cara-cara yang di luar nalarnya sebagai perempuan yang selalu berpikir logis.
Tiga tahun setelah usahanya yang cukup gigih tanpa ada tanda-tanda keberhasilan, dia berada dalam puncak kejenuhan. Saras memutuskan untuk memulai perjalanan sebagai backpacker ke Eropa bersama sahabat yang baru dikenalnya satu tahun terakhir di tempat kursus. Perjalanan itu benar-benar intermezzo dalam hidupnya yang menyenangkan dan penuh petualangan, setidaknya sebelum sahabatnya Vanny berubah menjadi frenemy, teman tapi musuh. Di tengah kesedihan karena dikhianati seseorang yang selama setahun menjadi tempat curhatnya itu, secara tidak sengaja saat berusaha menghindar dari kejaran pelukis jalanan di Montmartre, dia melakukan tindakan nekat yang membuatnya bertemu dengan seseorang lelaki impiannya.
Apakah setelah kisah cinta yang berliku-liku dan perjalanan ke berbagai tempat Saras berhasil melewati tekanan sosial masyarakat Indonesia dan menemukan cinta sejati?
ENDORSEMENT
"Udah baca, asik banget!! Kita semua dalam beberapa titik di kehidupan ini merasakan hal yg sama. So, sangat involve bgt jdnya pas membaca hehe"
Rudi Soedjarwo – Sutradara Terkenal Indonesia (Ada apa dengan cinta)
“Novel ini mengajak pembacanya memahami perjuangan seorang perempuan muda untuk menemukan cintanya. Pun memberi semangat buat perempuan muda lainnya yang masih harus berjuang menemukan cintanya. Bahwa, setiap detik dalam hidup adalah perjuangan termasuk untuk urusan cinta.” Genuk Ch. Lazuardi, ibu rumah tangga, mantan wartawan senior “Warta Ekonomi”, dan penulis buku “Maumu Apa Malaysia”, tinggal di Kuala Lumpur
Sari Musdar’s novel, Cinderella in Paris, has all the makings of a twenty-first century romantic comedy. It may become just another charming story about Paris, delighting the readers of Indonesia. Yet it may go farther, seeping deep into the mythic fabric of our literary history, enchanting readers for centuries to come, just like the first tales of the brave “Cendrillon”—little “Cinderella.”
Roman Payne, Novelis Perancis, pengarang beberapa novel antara lain “Rooftop Soliloquy” dan “Hope and Despair”
Penuturan yang ceria, membawa emosi dan bahasa yang ringan. Rasanya seperti Sari Musdar sedang menceritakan secara langsung Cinderella in Paris kepada pembacanya. I really enjoy reading it!
Buku ini tentang percakapan (dan pertarungan) bathin yang banyak dirasakan oleh perempuan Indonesia modern, yang di satu sisi mandiri, dan di sisi lain dituntut oleh nilai tradisional yang sangat kuat. Sehingga dalam hati sering terusik, “Apakah hal ini yang aku inginkan, atau hanya karena tuntutan sosial?”. Seperti Saras Ratiban, sang tokoh utama, yang mencari kebahagiaan jauh sampai ke Paris, ternyata adanya dekaaaat sekali, yaitu di dalam hati dirinya sendiri.
Cinderella in Paris sungguh sangat menghibur untuk dibaca, baik oleh para wanita single maupun married yang mulai lupa rasanya PDKT (pendekatan), terutama bagi para perempuan Indonesia modern yang sering merasa terjebak dalam lorong waktu. Fully recommended book!
Safitri Siswono, penulis buku “Big Dream Big Success: Sukses Memulai dan Menjalankan Bisnis dari Bangku Kuliah”, Direktur Utama pada salah satu perusahaan di Kelompok Usaha Bangun Tjipta.
Buku ini seperti parodi si single yang tersusun rapi dan menarik dalam sebuah cerita yang naik turun menegangkan, tentu saja karena ceritanya banyak terinspirasi dari kejadian sehari-hari kehidupan penulis yang lucu, menghibur, tragis dan penuh makna. Ketika membacanya lembar per lembar makin penasaran ingin tahu kisah akhir petualangan Saras.
Nuni berger, penulis & kolumnis di OZIP Magazine, Melbourne, mantan editor di Kompas Gramedia Group & penulis bersama “Nikah Sama Bule”
'Membaca novel Cinderella in Paris ini akan membuat Anda senang. Mulai dari awal hingga akhir kisah sungguh alur yang kuat. Baca novel ini maka Anda akan diberi kejutan yang indah."
Hartati Nurwijaya; Penulis buku Perkawinan Antarbangsa Love and Shock, Hidangan Favorit ala Mediterania, Bahaya Alkohol dan Cara Mencegah Kecanduannya, 100 Questions and Answer Kanker Serviks, tinggal di Yunani
Tips Backpack ke Eropa (bagian 1)
Yang harus disiapkan sebelum backpack ke luar negeri :
1. Dokumen perjalanan (paspor dan atau visa)
2. Tempat liburan/ itinerary
3. Budget
4. Book tempat penginapan (jika tidak punya saudara/ teman di sana/ couchsurfing)
5. Transportasi (pesawat dan kereta/ bus selama di sana)
6. Siapkan daftar packing list
Tips aman saat berjalan-jalan di tempat wisata
• Saat pertama kali tiba di bandara atau stasiun kereta, tanya pada petugas petunjuk arah dan kereta untuk bisa mencapai hostel tempat anda menginap. Lebih baik rajin bertanya dari pada tersesat bukan?
• Pelajari buku petunjuk atau peta kereta/ metro yang disediakan di stasiun (gratis)
• Untuk menghemat, tanyakan di loket apakah ada paket tiket untuk turis yang berlaku untuk jangka waktu tertentu. Di Eropa Barat terdapat paket tiket kereta untuk tiga hari, paket murah week-end, atau paket 10 kali jalan yang jauh lebih murah jika anda membeli one-way tiket.
• Kalau anda membawa tas ransel, jangan ditaruh di punggung, dokumen penting, kartu kredit dan uang dalam jumlah besar lebih baik ditaruh di tas pinggang atau kantung kecil di dalam baju /body wallet (anda bisa menyiapkan kantung kecil dari bahan katun dengan tali yang bisa diselempangkan di dalam baju)
• Jika anda membawa cukup banyak uang untuk dana selama bepergian di sana, saat berjalan-jalan di kota yang anda kunjungi, bawalah uang untuk keperluan hari itu, selebihnya bisa anda titipkan pada petugas di safe deposit, atau cukup bawa kartu atm dan kartu kredit.
1. Dokumen perjalanan (paspor dan atau visa)
2. Tempat liburan/ itinerary
3. Budget
4. Book tempat penginapan (jika tidak punya saudara/ teman di sana/ couchsurfing)
5. Transportasi (pesawat dan kereta/ bus selama di sana)
6. Siapkan daftar packing list
Tips aman saat berjalan-jalan di tempat wisata
• Saat pertama kali tiba di bandara atau stasiun kereta, tanya pada petugas petunjuk arah dan kereta untuk bisa mencapai hostel tempat anda menginap. Lebih baik rajin bertanya dari pada tersesat bukan?
• Pelajari buku petunjuk atau peta kereta/ metro yang disediakan di stasiun (gratis)
• Untuk menghemat, tanyakan di loket apakah ada paket tiket untuk turis yang berlaku untuk jangka waktu tertentu. Di Eropa Barat terdapat paket tiket kereta untuk tiga hari, paket murah week-end, atau paket 10 kali jalan yang jauh lebih murah jika anda membeli one-way tiket.
• Kalau anda membawa tas ransel, jangan ditaruh di punggung, dokumen penting, kartu kredit dan uang dalam jumlah besar lebih baik ditaruh di tas pinggang atau kantung kecil di dalam baju /body wallet (anda bisa menyiapkan kantung kecil dari bahan katun dengan tali yang bisa diselempangkan di dalam baju)
• Jika anda membawa cukup banyak uang untuk dana selama bepergian di sana, saat berjalan-jalan di kota yang anda kunjungi, bawalah uang untuk keperluan hari itu, selebihnya bisa anda titipkan pada petugas di safe deposit, atau cukup bawa kartu atm dan kartu kredit.
Friday, March 19, 2010
cinderella in paris, novel untuk para hapy single
AVAILABLE at GRAMEDIA book stores in all big cities in Indonesia as of April
2010
TEBAL : 305 halaman
penerbit : Human Books
Distributor : Gramedia Pustaka Utama
Penasaran seperti apa sih isi buku "Cinderella in Paris" yang bisa teman-teman
dapati di toko-toko buku Gramedia mulai akhir Maret 2010
Ini aku kasih contekan sinopsisnya ya :
Indonesian version :
SINOPSIS
CINDERELLA IN PARIS
*Sepenggal kisah si pejuang cinta*
Cerita ini bukanlah cerita Cinderella biasa. Ini kisah sepenggal kehidupan seorang perempuan yang beralih ke masa dewasa dalam usaha pencapaian kebahagiaan.
Di usianya yang menginjak dua puluh delapan tahun, Saras Ratiban baru menyadari status single ternyata kurang menguntungkan di masyarakat Indonesia. Takut dicap perawan tua, Saras berusaha dengan segala cara, baik cara yang masuk akal yang ia pelajari dari majalah-majalah wanita maupun cara-cara yang di luar nalarnya sebagai perempuan yang selalu berpikir logis.
Tiga tahun setelah usahanya yang cukup gigih tetapi tanpa ada tanda-tanda keberhasilan, dia berada dalam puncak kejenuhan. Saras memutuskan untuk memulai perjalanan sebagai backpacker ke Eropa bersama sahabat yang baru dikenalnya. Perjalanan itu benar-benar intermezzo dalam hidupnya yang menyenangkan dan penuh petualangan, setidaknya sebelum sahabatnya Vanny berubah menjadi frenemy, teman tapi musuh. Di tengah kesedihan karena dikhianati seseorang yang selama setahun menjadi tempat curhatnya itu, secara tidak sengaja saat berusaha menghindar dari kejaran pelukis jalanan di Montmartre, dia melakukan tindakan nekat yang membuatnya bertemu dengan seseorang lelaki yang berhasil mencuri hatinya.
Apakah setelah kisah cinta yang berliku-liku dan perjalanannya ke berbagai tempat Saras berhasil melewati tekanan sosial masyarakat Indonesia dan menemukan cinta sejatinya?
"Udah baca, asik banget!! Kita semua dalam beberapa titik di kehidupan ini
merasakan hal yg sama. So, sangat involve bgt jdnya pas membaca hehe"
Rudi Soedjarwo, indonesian-film-director (Ada apa dengan cinta)
Sari Musdar's novel, Cinderella in Paris, has all the makings of a twenty-first
century romantic comedy. It may become just another charming story about Paris,
delighting the readers of Indonesia. Yet it may go farther, seeping deep into
the mythic fabric of our literary history, enchanting readers for centuries to
come, just like the first tales of the brave "Cendrillon"—little "Cinderella."
Roman Payne, Novelis Perancis, pengarang beberapa novel antara lain "Rooftop
Soliloquy" dan "Hope and Despair"
info lebih lanjut gabung di grup "CINDERELLA IN PARIS" di face book
Labels:
chicklit. paris,
cinderella,
happy,
novel,
single
Tuesday, December 8, 2009
PANDUAN WISATA ALA BACKPACKER (UNTUK PEMULA)
Apa isi Buku Panduan ini?
Buku ini memang dikhususkan untuk mereka yang ingin menjelajah Eropa dengan dana terbatas dan merancang perjalanan sendiri atau berwisata ala backpacker pemula, artinya mereka belum pernah melancong sendiri ke Eropa.
Edisi pertama buku “Panduan Wisata ala Backpacker” ini akan membahas tempat-tempat wisata terkenal di BENELUX (Belgia, Netherlands dan Luxembourg) plus Perancis (Paris dan Nice) dan Trier (Jerman). Paris dan Trier dimasukkan karena kedua kota itu relatif cukup dekat ke BENELUX. Saya masukkan Trier di sini karena jika anda benar-benar dibatasi dana dan waktu, tetapi anda ingin melihat peninggalan kejayaan Kekaisaran Roma, anda tidak perlu jauh-jauh ke Italia di selatan Eropa. Di jaman Kekaisaran Romawi, Trier mempunyai julukan “Roma Seconda” karena enam kaisarnya pernah tinggal di kota ini. Semua bangunan di Trier hampir sama dengan bangunan yang ada di Roma (gereja Cathedral/ Gothic, amphitheater, gedung pemandian ala Romawi, dan jembatan Romawi)
Informasi apa yang bisa anda dapatkan dari buku ini? Untuk setiap kota saya sajikan informasi :
1. alat transportasi untuk mencapai kota tujuan anda dengan moda apa pun anda mencapai negara tersebut
2. transportasi terbaik untuk berjalan-jalan selama berada di kota
3. cuaca
4. informasi penting (pusat informasi turis, bahasa, mata uang, perbedaan waktu, kantor pos, kode area, dan kedutaan Indonesia). Tempat pertama yang harus anda kunjungi adalah pusat informasi turis untuk mengetahui kegiatan saat itu, informasi pemebelian tiket masuk dan transportasi. Anda bisa update itinerary yang sudah anda rancang jauh-jauh hari dengan informasi yang anda dapatkan dari petugas di informasi turis.
5. tips wisata hemat (tempat makan, museum/ atraksi gratis, hemat tiket transportasi)
6. tempat-tempat yang wajib untuk dikunjungi (rekomendasi, pilihan ada pada anda)
7. tempat belanja
8. Event / Atraksi tahunan (banyak kegiatan diadakan tanpa harus membuat anda mengeluarkan uang)
9. Tempat hiburan malam
10. Contoh kegiatan jika anda hanya punya waktu satu hari di kota yang anda kunjungi
11. Warung Internet (walaupun hampir semua hostel di Eropa mempunyai fasilitas 2 komputer dengan koneksi internet dengan tarif 2 euro per 30 menit atau wifi di lobbynya, tetapi jika dalam keadaan darurat saat anda sedang berjalan-jalan membutuhkan internet, anda bisa datang ke café internet)
12. Hostel : Saya hanya menulis hostel yang direkomendasikan. Untuk selengkapnya anda bisa lihat di http://www.hostelworld.com atau http://www.hostelbookers.com)
Dan yang terlebih penting di bagian pertama saya selipkan informasi bagaimana mengurus visa schengen dan dokumen perlengkapannya. Karena dari pengalaman yang saya ketahui di milis, banyak teman-teman yang gagal mendapatkan Visa Schengen. Maka saya pikir sangat penting untuk memberikan informasi tersebut, sehingga anda benar-benar mempersiapkan diri dengan baik agar perjalanan anda tidak terhambat hanya karena urusan Visa.
Akhirnya, saya berharap buku kecil dan sederhana ini dapat membantu teman-teman merancang perjalanan dan itinerary serta budget untuk mengintip kota-kota di BENELUX dan tetangganya. Jika ada hal yang belum ditulis di sini, anda masih bisa improvisasi dengan informasi gratis yang anda dapatkan di Pusat informasi Turis di kota yang anda tuju.
JIka anda tertarik untuk mendapatkan copy , silakan kontak smusdar@hotmail.com Subyek : panduan backpacker
harga : 25.000 belum termasuk ongkos kirim
Trier, Roma Kedua di utara Eropa
Subscribe to:
Posts (Atom)








