Monday, June 29, 2009

Melihat Eropa lebih dekat (bag 03)

Brussel, Belgia Keesokan harinya saya putuskan untuk melanglang ke Negara tetangga, Brussel, Belgia. Brusel merupakan kota yang tidak terlalu besar. Sebagian besar penduduknya berkomunikasi dalam bahasa Belanda dan Perancis, jadi saya harus membawa kamus saku Perancis saya kemana pun saya pergi. Setelah sebelumnya memesan kamar di Centre Vincent Van Gogh (Youth Hostel) yang terletak di Rue Traversiere 8, maka saya naik kereta dari Amsterdam Central ke Brussel Midi dengan harga tiket sebesar 33,4 euro. Hostel yang dikhususkan anak-anak muda di bawah usia 35 tahun ini dulunya adalah semacam apartemen dimana Van Gogh pernah tinggal, terletak tidak jauh dari Le Botanique jardin (Taman Botanique). Hostel yang merupakan gedung tua ini, dikelola oleh anak-anak muda sehingga jelas sekali atmosfir remajanya. Di Lobby semua backpacker dari berbagai negara bisa saling berkenalan dan berbicara tentang perjalanan mereka, minum bir atau minuman lainnya, surfing internet, atau bermain bilyard di tengah ruangan yang hidup dengan musik rock yang menggema memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas. Lobby ini semakin ramai setelah jam 6 sore, karena saat itulah kafe dibuka. Tidak banyak obyek wisata yang bisa dikunjungi di Brussel. Hari pertama saya berjalan kaki menuju Le Botanique Jardin, Grand Place, dan Museum Komik Smurf & Tintin. Le Botanique merupakan taman kota dihiasi tanaman-tanaman hias berwarna-warni dan kolam air serta patung-patung perunggu yang sudah ada di situ sejak abad pertengahan. Saat itu saya melihat sekelompok anak kecil laki-laki yang asik berteriak bermain bola, pasangan muda mudi yang memadu kasih, turis yang sedang bergaya di depan kamera dan pejalan kaki yang lebih senang melewati taman ini ketimbang harus melewati trotoar. Dari taman kota saya melanjutkan jalan-jalan siang ke Grand Place, melewati Mall Super City dan beberapa gedung kota yang bergaya Baroque. Sebelum sampai di Grand Place, saya melewati gang yang penuh kafe dan restaurant Yunani, Italia dan Maroko. Pelayan-pelayan restaurant yang berwajah rupawan dengan pakaian putih bersih atau berjas memanggil para pejalan kaki untuk mampir ke restaurant mereka. Hanya saja perut saya sudah saya isi dengan kebab yang saya beli di kedai kecil milik orang Turki di dekat Mall. Grand Place sebenarnya tak terlalu berbeda dengan Dam Square, di sini orang-orang berkumpul baik penduduk setempat dan turis mengagumi gedung-gedung tua dengan arsitekturnya yang indah. Kalau Perancis mempunyai Menara Eiffel, Italia terkenal dengan Menara Pisa, maka Belgia mempunyai Atomium. Maka pada hari kedua sebelum saya meninggalkan Brussel, saya memutuskan untuk pergi ke land mark Belgia ini. Karena letaknya cukup jauh dari Hostel tempat saya menginap, saya harus naik Metro Line 1 A yang berhenti di Stasiun Bis Heysel. Dibandingkan dengan dua menara yang saya sebutkan tadi, Bangunan Atomium ini relative masih sangat muda, karena baru dibangun tahun 1958 dan direnovasi tahun 2003 dan tidak terlalu tinggi, dengan ketinggian dari permukaan tanah hingga bola tertinggi mencapai 102 meter.. Sesuai dengan namanya, Atomium merupakan 9 bola logam raksasa berdiameter 18 meter yang masing-masing dihubungkan / disangga dengan logam. Tiap – tiap bola mempunyai fungsi tertentu, misalnya pada bola perama selain tempat pengunjung membeli tiket masuk juga merupakan tempat pertunjukkan permanen, pada saatitu dipamerkan mobil-mobil munggil dengan berbagai warna cerah seperti permen. Pengunjung bisa mencapai bola tertinggi melalui lift setelah membeli tiket masuk seharga 7 euro. Di bola tertinggi ini kita bisa melihat pemandangan di bawah melalui layar yang mirip computer, atau kalau ingin suasana romantis sambil mencicipi makanan khas Belgia, bisa mampir di lantai teratas bola ini di “Restaurant Panorama”. Mau mengunjungi dan mengenal lebih dekat Eropa dalam hitungan menit ? Tidak jauh dari Atomium terdapat obyek wisata lainnya yang tidak kalah menarik, Miniatur Eropa. Di sini kita bisa mengenal negara-negara di Eropa melalui miniatur landmark masing-masing negara. Sayangnya saya harus merogoh dompet lagi untuk bisa melihat Eropa mini tersebut.

No comments:

Post a Comment