Monday, June 29, 2009

suka duka lajang kota usia tigapuluh tahunan

Saya baru nyadar, stelah secara ngga sengaja chatting sama beberapa teman seumuran (30 -35) yang masih berusaha untuk mendapatkan cinta sejati alias masih single (jomblo/ sedang dalam proses dating/ sedang dalam relationship), ternyata banyak teman-teman senasib saya yang mulai was was dan tidak comfort dengan keadaan masih single ini. Dan ternyata, masalah ini tidak dialami oleh perempuan saja, tetapi teman saya yang laki-laki pun akhirnya karena merasa senasib spenderitaan (waddaw kasian banget ya kaum single ini sampe saya sebut sependeritaan) yang dulunya ga pernah curhat masalah pribadi, tiba-tiba mengucur dari mulut dia oops tiba-tiba lancar menulis curhatannya sebagai lelaki single.. Kadang-kadang juga sempat mikir, hey guys, both of us have same problem, yang cewek ngeluh susah banget dapat Mr Right, yang cowok juga ngeluh kok nyari cewek yg bener-bener click susah ya? kenapa kalian ga kontak dan langsung jadian?? hehehehehe masalahnya, cari orang yg bener-bener click itu susah-susah gampang, antara kita harus berusaha keep looking dan nunggu juga Tuhan bekerja dalam usaha kita itu..jadi emang harus sabar dan ga putus asa.. Cita-cita luhurnya sih, bener-bener nemuin orang yang bener-bener kita cintai dan dia juga mencintai kita serta karena hubungan itu kita bahagia dan bermuara ke pernikahan. Tapi dari hasil curhatan kita para single 30's di jakarta, kadang-kadang dalam proses pencarian dan usaha ke arah cita-cita luhur tersebut, sering kali kita jadi sedikit "capek hati" dan BT. Mungkin hal ini ngga dialami teman-teman lajangg 30's di negara lain. Buat saya dan para teman-teman pejuang cinta sejati, saat memasuki usia 30 ke atas dan masih lajang, semakin umur bertambah, semakin besar tekanan yang kita dapatkan dari orang-orang di sekitar kita. Seperti pertanyaan, yang mungkin timbul dari kebiasaan basa-basi orang Indonesia, "kok masih single? apa sih yang dicari? terlalu pemilih ya? atau ada yang parah lagi bilang, KOk belum laku2 GUBRAX.. kalo kita nya dalam keadaan mental bagus, dan suasana hati bagus, paling dijawab dengan bcandaan...Tapi kadang-kadang ada aja orang yang usil dan kurang peka, tetap aja ngulik-ngulik sperti polis mengintrogasi penjahat, dengan pertanyaan kapan kirim undangan, kenapa belum> kenapa dengan cowok/ cewek kamu si X? bla bla bla bla bla.... Kejadian yang bikin BT, ketika seorang ex sahabat usia 30 an sebut saja V, yg sedang mengejar co idamannya hingga pergi ke negara Swedia menyuruh 2 temannya (yang saya kenal di satu kelas CCF) mengulik2 informasi ttg kisah cinta saya dan updatenya. hari pertama temannya Yn bertanya, "woi, di australia ya, temu banyak bule doong, kapan kirim undangan.." Saya jawab dengan becandaan, dia ngga puas, trus ngulik2...saya cuekkin.. besoknya muncul lagi dengan pertanyaan sama, "kapan nih kirim undangan" karena ngga puas dengan jawaban ngawur saya kmrn..Saya bilang aja. "besok lagi lu tanya kapan kirim undangan gue kasih payung deh hehehee, ntar klo gue kirim undangan, lu mesti kasih angpaw yg paling besar yak? nanya2 mulu kayak polisi...wanna know aja" hihihi itu hanya salah satu contoh orang usil, yang lainnya sih banyak, drpd capek hati nanggapin orang2 usil, akhirnya saya putusin ignore mereka. Saya dan teman-teman saya yg curhat ini tidak mau terjebak dengan tekanan tersebut, married bukan ajang kompetisi siapa yang duluan, atau karena tidak tahan dengan tekanan sosial tersebut, maka kita asal nikah dengan orang yg mungkin bukan terbaik buat kita..KIta ingin merasakan perasaan indahnya cinta dan finally setelah melewati sgala macam perjuangan, perasaan senang saat jadian, sedih saat putus, akhirnya berbuah manis, dengan kesabaran kita, menemukan the right one, perasaan bahwa akhirnya kita menemukan orang yang benar-benar mencintai kita, orang yang ditakdirkan menjadi pasangan kita, meski tentunya setelah itu life not always happy ending story....stelah bertemu dengan si belahan jiwa ini, kita tetap harus berusaha agar pernikahan bisa berlangsung, agar cinta tetap terpelihara setelah pernikahan (tapi ini target kedua, target utama adalah menemukan cinta sejati) Tidakkah orang- orang yang perhatian atau pun usil itu mencoba peka ? sedkitinya tenggang rasa? bagaimana jika mereka dalam posisi kita? umur 30an dan belum menemukan cinta sejati/ pasangan hidup? bagaimana rasanya jika kita si single 30's ini sudah berusaha untuk menemukan cinta sejati, baik dating dengan bbrp orang, dan juga usaha doa, tetapi belum menemukan yang cocok? Bukannya membiarkan kita berusaha dan tetap enjpy dalam hubungan yang sedang dibina, tetapii kadang-kadang malah bertanya kepada kita yang seakan-akan agak menuduh, something wrong with us cause we are still single at our 30's age??? parahnya ada teman yang komentar, lu sebenarnya manis juga ya..cuma kenapa belum laku2 oh help me, emang kita ini barang dagangan laku? hahaha Beruntunglah mereka yang ada di negara maju, seperti kata kakak saya, di Perancis, nikah atau tidak nikah adalah THEIR OWN CHOICE. Orang tidak akan usil, usia kita 30an dan kita ngga nikah. Bukannya saya mau sok modern dan ingin mencontoh mereka. Tetapi mungkin, kalau orang-orang tidak usil, kita bisa benar -benar fokus pada HUBUNGAN itu sendiri dan bukannya fokus pada PERNIKAHAN saja. Kita ingin kita akhirnya menikah, setelah menikmati dan yakin orang inilah yang terbaik, bukan menikah karena dead line atau desakan dari lingkungan sekitar, anda tidak mau bukan senasib dengan artis cici paramida :-)

No comments:

Post a Comment