Monday, June 29, 2009

Melihat Eropa lebih dekat (bag 04)

Karena tidak banyak yang perlu dikunjungi, setelah pamitan singkat dan bertukar email dengan teman-teman backpacker di Van Gogh Youth Hostel, saya segera pergi ke Stasiun Brussel Midi untuk melanjutkan perjalanan ke Paris dengan kereta Thalys. Dibandingkan dengan kereta Amsterdam-Brussel, kereta ini jauh lebih bagus dan bersih dan tentu saja lebih mahal. Perjalanan ini tidak memakan waktu lama, 1 jam 25 menit kemudian saya sudah tiba di Stasiun Paris Nord. Begitu tiba di Stasiun yang besar ini, saya mengalami sedikit masalah dalam komunikasi, karena tidak semua orang Perancis bisa dan mau berbicara dalam bahasa Inggris, maka mau tidak mau saya harus mempraktekkan bahasa Perancis saya, dengan kata-kata pertama : “excusez moi, vous voulez parles Anglais”?” Untungnya masalah saya sudah terpecahkan, dengan melihat peta Metro yang ada dipajang di beberapa tempat, saya kemudian membeli tiket Metro. Di agenda saya sudah ada beberapa daftar yang harus saya kunjungi di Paris, antara lain Champ Elysee Avenue yang tersohor itu, Arc de triomphe, Musee du louvre, menara Eiffel, Notre Dam (The Our Lady Cathedral), Chateau de Versailles, Montmartre, The Opera dan Parc de Soaux. Sebenarnya sih ada beberapa museum lainnya seperti Musee d’Orsay, Museum Asia, Museum Afrika dan lain-lain, tetapi untuk sementara saya prioritaskan yang ada dalam daftar mengingat waktu dan dana. Mau menghemat biaya? Datanglah ke Museum-museum di Perancis pada hari Minggu di pekan pertama tiap bulannya, karena tidak dipungut biaya seeuro pun untuk masuk ke Museum. Tempat yang pertama saya kunjungi adalah Menara Eiffel. Sebenarnya menara ini adalah kumpulan besi yang disusun menjadi bentuk menara menjulang ke langit yang terdiri dari 3 lantai dan dinamai sesuai dengan nama si perancang. Setiap tahun menara yang menjadi ciri khas kota Paris ini dicat dengan warna yang berganti-ganti. Walaupun mempunyai 4 pintu masuk dan membayar tiket sebesar 3.80 Euro serta harus terengah-engah mengatur nafas karena harus menapaki ratusan anak tangga untuk mencapai tiap lantainya, antusias pengunjung tidak surut. Di lantai kedua ini terdapat restaurant socialite dunia yang super mahal, Kabarnya Tom Cruise melamar Katie Holmes di restaurant yang memang suasananya romantis. Dari Menara Effel saya mengambil metro dengan rute Champ Elysee Clemenceau. Iya, saya ingin menikmati Jalan Champ Elysee yang terkenal sebagai kawasan elit Paris. Selain di sini terdapat Etalase yang menjual barang-barang dan parfum merek terkenal, café-café terbuka di sepanjang jalan Champ Elysee, restaurant termasuk Planet Holywood, di ujung jalan tak jauh dari Place de La Concorde yang terdapat kediaman Perdana Mentri Jacques Chirac yang dijaga oleh banyak militer. Akhirnya setelah menaiki anak tangga dari stasiun Metro Champ Elysee Clemenceau muncullah saya di kawasan elit ini, dan di depan saya terdapat bangunan yang menyerupai gapura besar yang sudah terkenal, yakni Arch de Triomphe, symbol kemenangan bagi bangsa Perancis. Saya menyusuri jalan sambil memandangi toko-toko di sisi kanan dan kiri. Banyak turis berlalu lalang beberapa hanya melihat-lihat barang bermerek, yang lain sibuk dengan kantong besar belanjaannya, yang lain asik menikmati siang hari yang cerah musim panas baik di kursi-kursi yang berjajar di kafe pinggir jalan atau di restaurant. Setelah melewati taman-taman yang indah, sampailah saya di La Concorde. Tempat ini mudah dikenali karena di tengah-tengah terdapat kolam kecil dan air mancur dengan hiasan warna hijau tua dan emas di tengah-tengahnya. Air yang menyembur menyegarkan kota Paris yang panas terik saat itu. Melewati kolam tertancap dengan tegak L’obelisk, tugu dengan ketinggian melebihi 7 meter ini berasal dari Mesir dibawa peneliti Perancis ke Paris saat mereka meneliti Piramida. Kaki saya terus melangkah setelah sempat berpose di depan Obelisk ke Taman Tuileries. Hm, kalau sudah baca buku Da Vinci Code, pasti bisa ditebak ke mana arah kaki selanjutnya saya langkahkan. Betul, terinspirasi dengan kisah menarik dari The Da Vinci Code, saya menikmati setiap langkah dan pemandangan di depan mata menuju Musee Du louvre dan membandingkan dengan deskripsi Dan Brown tentang daerah sekitar Museum yang sangat luas dan sebagian areanya berada di bawah tanah ini. Ada berbagai pintu masuk menuju Musee du Louvre, tetapi karena saya berjalan dari Champ ELysee, maka saya akan masuk dari bangunan yang bentuknya seperti Piramid, tetapi terbuat dari kaca yang menurut Dan Brown di novel larisnya dipesan oleh Presiden Miterand dan dibuat dari 666 kaca?. Sebelum ke Piramid tersebut kita harus melewati Esplanade de Tuileries, taman yang di tengah-tengahnya terdapat kolam bundar yang dipadati orang –orang yang beristirahat sambil menikmati paparan sinar matahari di kursi-kursi yang disediakan di pinggirannya. Beberapa anak kecil berlari-lari di pinggir kolam untuk menggerakkan kapal-kapal layar kecil dengan tongkat. Melewati kolam tersebut hamparan taman berumput hijau segar dipenuhi pasangan muda-mudi yang bercengkerama tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarnya. Langkah saya semakin mendekati Louvre, saya sudah sampai di Pintu masuk Galerie du Carrousel. Bangunan berbentuk gapura ini hampir mirip dengan Arc de Triomphe, dan menjadi obyek foto yang menarik banyak wisatawan. Setelah menyebrangi jalan kecil dan melewati Patung Louis XIV di atas kuda, tibalah saya di depan pintu masuk Piramid. Untuk masuk ke Museum Louvre sebenarnya ada lebih dari satu pintu masuk, selain Pintu masuk utama pyramid, jika menggunakan Metro 1 atau 7, pengunjung masuk dari pintu Palais-Royal-Musee du Louvre yang berada di bawah tanah, pintu masuk Porte de de Lions akses langsung ke bagian seni Africa, Asia, Oceania dan Amerika, atau jika tiket masuk sudah ada di Passage Ricelieu. Datang dari pintu masuk mana pun, akan ada petugas berseragam yang memeriksa pengunjung satu persatu. Setelah melewati pemeriksaan, saya sudah ada di bawah Piramid yang disebut Napoleon Hall. Musee du Louvre terdiri dari 3 bagian utama, bagian sayap Richelieu , Denon dan Sully. Richelieu mempunyai koleksi pameran lukisan pelukis Perancis abad 14 sampai 17, lukisan pelukis Jerman, Flemish dan Belanda, Seni dekoratif abad 17 dan 19, Patung seniman perancis, Seni antik Mesotamia, Iran dan Islami. Sayap yang ada di seberang Richelieu adalah sayap yang sangat terkenal dan banyak dikunjungi lebih dahulu oleh pengunjung, yakni Denon. Selain di sini terdapat lukisan kontroversial yang sangat terkenal itu dan membuat Dan Brown membuat tulisan yang teorinya cukup menggoda keyakinan para pembacanya, Monalisa (masyarakat Perancis lebih mengenalnya dengan sebutan La Joconde) kita bisa melihat Lukisan pelukis Italia dan Spanyol abad 13-17, lukisan Perancis abad 19, Apolo Gallery, Mahkota Permata Italia, Patung-patung Spanyol dan Utara Eropa, benda-benda antik dari Yunani, Roma dan Estruscan, seni dan peninggalan Mesir, dan terakhir Seni Afrika, Asia (di sini ada benda-benda pra sejarah dari Nias dan Papua), Oceania, dan Amerika. Sayap yang berada di tengah-tengan Richelieu dan Denon adalah Sully, yang di dalamnya dipamerkan Lukisan Perancis abad 17, 18 dan 19, Gambar / sketsa dari seniman abad 17, 18, dan 19, Seni dekoratif abad 17 dan 18, peninggalan dari Jaman Kerajaan Kuno Yunani, Estruscan dan Romawi, benda-benda dari Raja Mesir beberapa abad sebelum masehi, Jaman kuno Iran dan Arab, dan sejarah Museum Louvre. Saya setuju dengan Dan Brown, untuk benar-benar bisa menikmati semua koleksi Museum yang sangat luas ini, waktu kunjungan normal dari jam 9 pagi hingga 6 sore sama sekali tidak cukup. Kecuali jika hanya menjadi turis dan memandang sekilas hanya untuk sekedar tahu. Untuk benar-benar bisa mengagumi karya maha besar lukisan atau pun ketinggian hasil budaya bangsa kuno berabad-abad silam. Terrnyata untuk bisa mengagumi lukisan pelukis Italia Leonardo da Vinci yang sangat terkenal tidaklah mudah. DI lantai pertama Sayap Denon dipamerkan banyak lukisan berukuran sangat besar, bahkan ada yang berukuran lebih dari 5 meter, dan kebanyakan bertemakan agama Kristen. Di bagian ini dipamerkan pula lukisan Da Vinci lainnya, tapi tentu saja antusias pengunjung lebih mengarah ke Monalisa, dan itu membuat saya harus menanti dengan sabar antrian 3 baris di depan saya bergerak maju. Terrnyata untuk bisa mengagumi lukisan pelukis Italia Leonardo da Vinci yang sangat terkenal tidaklah mudah. Untuk melihat dari jauh sangat sulit, karena lukisan yang pernah dicuri 2 kali ini, ukurannya tidak besar dibandingkan lukisan disekelilingnya dan dilindungi dengan system keamanan yang super ketat, selain banyak penjaga berperawakan besar yang berjaga-jaga disekitar lukisan, Monna Lisa dilindungi lapisan kaca, dan pengunjung hanya boleh berdiri sekitar 1,5 meter di depannya itupun dibatasi hanya 1 menit, lebih dari 1 menit petugas akan menyuruh kita pergi ke tempat lain. Dari Musee du Louvre memenuhi rasa ingin tahu saya, sebenarnya saya ingin melihat gereja kecil yang disebutkan Brown dalam novel larisnya The Davinci Code. Tapi karena setelah bolak-balik di jalan sebelah timur dari Musee Du Louvre, saya gagal menemukan gereja ini bahkan sampai saya jauh berjalan hampir ke Quartier Latin, akhirnya saya beristirahat di Katedral yang lebih terkenal dengan sebutan Notre Dame. Gereja tua yang berbentuk kotak dan langit-langit yang tinggi ini, sampai saat ini masih dipakai oleh umat Kristen untuk kegiatan agama mereka. Umat yang saat itu kebetulan sedang merayakan Pantekosta tetap tenang melakukan misa sekalipun banyak pengunjung yang berjalan memperhatikan interior Gereja di alur khusus yang disediakan untuk pengunjung. Chateau de Versailles adalah tujuan saya berikutnya. Rasanya tujuan Raja Louis XVI membuat Chateau yang super megah dan dikagumi banyak orang sudah terwujud. Bahkan sampai saat ini pun kemegahan chateau ini tidak hanya diketahui bangsa Perancis, tetapi juga semua orang di seluruh dunia, termasuk saya. Menurut sejarah Perancis, Raja Louis XVI iri dengan Raja Louis XIV yang membanggakan Palais Royalnya yang megah itu (yang sekarang digunakan sebagai Museum Louvre di pusat kota Paris ) maka Louis XVI pun tak mau kalah, ia membuat villa tidak jauh dari Paris yang yang jauh lebih megah dari Palais Royal. Chateau yang juga disebut Grand Appartment ini memang jauh lebih besar dan megah dari Palais Royal, dan terletak di sebalah barat Paris jauh dari pusat kota . Saya naik Metro dari Stasiun Palais-Royal-Musee du Louvre menuju Stasiun Versailes Rive droite. Dan pada metro terakhir, seisi metro dipadati oleh turis dari berbagai negara. Sekedar info, untuk menghemat biaya transportasi di Paris, kalau kita bepergian lebih dari 4 hari dalam seminggu, sebaiknya membeli tiket metro mingguan seharga 30 Euro, tetapi kalau kurang dari 3 hari dalam seminggu tiket metro mobiliste seharga 12,10 Euro jauh lebih ekonomis. Kedua tiket dapat dibeli secara otomatis di mesin-mesin penjualan tiket (seperti mesin ATM) atau loket penjualan SNCF di Stasiun. Tiket mobiliste dapat digunakan untuk semua metro dan bis yang kita tumpangi selama 1 hari, sedangkan tiket abonemen satu minggu dapat dipakai untuk hal yang sama selama 7 hari. Chateau de Versailles sangat megah dihiasi berbagai lukisan Raja, Ratu Marie Antoinette dan keluarganya yang berukuran raksasa. Di salah satu bagiannya bahkan terdapat istana kaca, yang semua dinding dan langit-langitnya terbuat dari kaca dan hiasan ornamen emas. Langit-langit yang tinggi tidak dibiarkan kosong, tetapi berwarna-warni dengan hiasan para dewa mitologi Yunani yang pinggirannya dihiasi emas. Villa yang berukuran sangat luas ini mempunyai begitu banyak kamar dan ruangan yang ukurannya besar, mungkin karena itulah di tiket masuknya Chateau ini disebut juga Les Grands Appartments. Di dalamnya dipamerkan semua kekayaan Raja Louis XVI yang membuat pengunjung berdecak kagum, tidak heran jika kemudian pecah Revolusi Perancis, kehidupan Raja, Ratu dan anak-anaknya bagaikan hidup negeri dongeng berkelimpahan harta. Ratusan lukisan yang memenuhi dinding-dinding Chateau ini sebagian besar koleksi lukisan yang memang sudah ada sejak Raja Louis XVI berkuasa yang kebanyakan lukisan potret diri dan keluarga serta lukisan bertema dewa-dewi dan agama. Selain itu terdapat juga banyak patung-patung abad pertengahan dan patung para pelukis yang bekerja untuk Raja Louis XVI dan patung para mentri ataupun orang penting pada masa itu. Sebanding dengan bangunan villanya yang luas, Raja Louis XVI pun mempunyai taman yang super luas dan indah di samping villanya dan masih dijaga keapikannya oleh pengelola Chateau de Versailles. Hari berikutnya kunjungan saya adalah kompleks pemakaman terkenal Le Pere La chaise. Tapi sebelumnya saya memutuskan untuk mengisi perut di restoran makanan china yang terkenal enak masakannya di kawasan Quartier Latin, maklum sudah kangen dengan masakan Asia . Quartier Latin merupakan kawasan gaul di Paris, di sini banyak restaurant yang menyajikan masakan dari beberapa negara, antara lain Perancis, Maroko, China, Italia, dan Yunani, dan merupakan tempat gaul dipadati remaja/ muda-mudi Paris di akhir minggu. Dari Quartier Latin saya naik bis ke daerah Pere La Chaise. Sebenarnya ada pemakaman yang jauh lebih besar di Paris yakni Pantheon yang di dalamnya terdapat makam Presiden Perancis, tetapi pemakaman yang akan saya singgahi ini adalah salah satu makam yang dijadikan obyek wisata para turis internasional. Entah karena unsur lokasi atau kepercayaan yang berbeda antara orang bule dan Indonesia, kalau di Indonesia saya merasa ngeri jika berada di dekat kuburan (apalagi seperti saat ini, saya sudah ada di antara kuburan-kuburan tua yang sudah ada ratusan tahun silam) di sini saya tidak merasa ketakutan akan ada penampakan. Di depan pintu masuk sudah ada papan denah kompleks kuburan yang sangat luas ini. Hanya keluarga terpandang dan kaya raya yang bisa dimakamkan di sini. Kuburan yang saat ini ingin saya lihat adalah kuburan sastrawan dan penulis drama terkemuka Perancis Moliere, komposer musik klasik Chopin dan vokalis band Rock Amerika Serikat tahun 1970an The Doors, James Douglas Morrison (terkenal dengan sebutan Jim Morison, salah satu lagunya yang terkenal adalah Fire). Walaupun sudah ada denah di dekat pintu masuk dan pembagian dalam blok-blok, jalan dan gang, tetapi karena tempat ini sangat luas, sehingga cukup sulit dan memakan waktu untuk menemukan lokasi ketiga kuburan itu. Yang sangat menonjol dan ramai dikunjungi adalah makam Jim Morrison. Walaupun Jim yang terkenal dengan lirik lagunya yang indah bagaikan puisi ini meninggal puluhan tahun silam di apartemennya di Paris, tetapi namanya masih dikenal anak muda yang hidup 20 tahun lebih sejak dia meninggal dan mempengaruhi banyak pemusik terkenal di Amerika. Saat saya akhirnya sampai di depan makam Jim, banyak anak-anak muda dari berbagai negara berdiri di sekitar kuburannya dan menghiasi pusaranya dengan bunga mawar yang mereka bawa untuk sang idola. Sebenarnya sih saya akan cepat sampai tujuan kalau saya naik metro menuju Montmartre , tetapi saya pikir dengan naik bis saya bisa melihat wajah Paris lainnya selain wajah manis sekitar Eiffel dan Champ Elysee. Kalau naik metro saya hanya melihat stasiun-stasiun metro di bawah tanah yang saya lewati. Memang sih rute bis ini agak berputar – putar dan lama dibanding kalau saya naik Metro, tetapi sisi baiknya saya bisa melihat perkampungan imigran Maroko dan Alzajair di Belville (di sini banyak toko-toko daging, roti, minimarket dan restoran milik keturunan Maroko dan Alzajair) dan cite (apartemen-apartemen murah yang kelihatan agak kumuh untuk warga Niger, turunan Maroko, Alzajair dan imigran lainnya termasuk juga keturunan Cina atau Vietnam) di tengah-tengah kota Paris. Bis ini memang melewati perkampungan warga turunan imigran, sehingga bukan pemandangan yang aneh banyak warga dengan rupa beraneka ragam, niger, arab, china/ Asia dan Yahudi yang sebagian kecil dari mereka masih menggunakan pakaian ciri khas mereka. Di depan saya duduk seorang gadis manis keturunan Alzajair bernama Annisa yang baru saja pulang dari sekolah di kawasan Belville tetapi tinggal di Montmartre. Saya tidak sengaja berkenalan dengannya ketika saya berkomunikasi dengan seorang nenek di sebelah kanan saya dan percakapan terhenti karena memang bahasa Perancis saya belum lancar sementara sang nenek yang keturunan Italia hanya bisa bahasa Italia dan Perancis. Akhirnya Annisa mencoba memulai percakapan dengan bahasa Inggris yang terbata-bata. Sampai di depan sebuah bangunan gereja tua, nenek di sebelah saya mengajak saya siap-siap turun “C’est Montmartre , nous descendons” dan saya pun turun. Montmartre merupakan kota tua di perbukitan yang mempunyai gereja tua bernama Sacre Coeur sebagai landmark kawasan ini. Obyek wisata yang bisa kita lihat adalah bentuk geologis kota yang berundak-undak (dari atas jalan di depan Sacre Coeur kita bisa melihat sekeliling kota Paris apalagi kalau menggunakan teleskop yang disedikan di sini), gereja yang sudah ada ratusan tahun Sacre Coeur, pelukis –pelukis keturunan Italia/ Korsica di belakang gereja yang menawarkan jasa mereka untuk melukis potret diri wisatawan yang lewat, café-café, toko, restaurant dan pasar. Berjalan ke bawah, terdapat banyak toko tekstil yang menjual bahan pakaian dengan harga miring. Jadwal saya pagi ini adalah melihat 2 taman kota (taman di Paris yang luas dan tertata rapi dan indah disediakan gratis oleh Pemerintah kota ) di pusat kota Paris, Le Jardin de Luxembourg dan di selatan Paris , Parc de Soeaux. Saya menuju yang terjauh, dan segera naik metro ke daerah pemukiman di selatan Paris yang tenang, Parc de Soeaux. Sebelum saya sampai ke taman yang dimaksud, saya melewati rumah-rumah besar dengan berbagai macam gaya arsitektur serta taman yang indah di setiap rumahnya, sepintas rumah-rumah berharga jutaan euro ini mengingatkan saya pada kawasan Pondok Indah di Jakarta Selatan. Sesampainya saya di depan pintu masuk taman ini, saya sudah terpana dengan keindahan taman ini, dibandingkan dengan Taman di Chateau de Versailles , taman di Parc de Soeaux jauh lebih luas dan indah. Sabtu siang itu penduduk kota banyak yang berekreasi di sini, ada keluarga muda yang datang untuk piknik, kelompok remaja yang bermain sepak bola, pasangan muda-mudi yang berpacaran, sekelompok orang yang berjemur matahari, sekelompok pria yang memamerkan seni bela diri Brazil lengkap denagn tabuhan gendang, orang-orang yang jogging dan bersepeda. Di salah satu pintu masuk lainnya saya melihat beberapa pasang pengantin Afrika dan Eropa dengan keluarga mereka baru saja berpose di depan Chateau kecil berwarna kuning dengan hamparan rumput hijau di depannya. Chateau itu menurut penduduk setempat memang sering digunakan pengantin untuk tempat mengabadikan pernikahan mereka bersama keluarga. Di depan chateau setelah menuruni beberapa anak tangga sepanjang mata memandang panorama taman hijau yang indah dengan hiasan sejenis pohon-pohon cemara di kedua sisi lapangan hijau di depan saya yang dibentuk segitiga besar yang rapi. Setelah melewati taman luas, berjalan agak ke bawah, terdapat kolam air besar yang membelah taman menjadi dua. Di depan taman di bawah pohon, saya beristirahat sejenak menikmati sinar matahari paris di musim panas yang terik sambil membuka bekal saya dan berkhayal seandainya ada taman seindah ini di Jakarta dimana penduduk kota bisa berekreasi dengan murah bersama keluarganya ataupun teman. Kunjungan kedua saya hari ini adalah taman kota di pusat Paris , Taman Luxembourg . Setiap bulan di pagar taman ini dipamerkan lukisan-lukisan pelukis muda dengan tema yang berbeda, kali ini temanya adalah laut. Banyak pengunjung yang menikmati pemandangan indah lukisan tersebut sebelum ataupun sesudah masuk Taman . Taman Luxembourg tidak terlalu besar, tetapi yang menarik pengelola taman ini memberikan sentuhan seni kontemporer dari pintu masuk sampai mendekati kolam di mana orang-orang berkumpul di sekelilingnya untuk berjemur matahari sore, diantara pasir putih mereka menaruh pasir biru di tengah-tengahnya selebar 4 meter yang dibatasi oleh pohon-pohon kecil dan di atas jalan tersebut di atas pohon digantung foto-foto dengan diberi pencahayaan khusus, sehingga pengunjung taman mengalami sensani khusus saat berjalan di atas pasir biru laut tersebut. Tidak jauh dari Taman Luxembourg yang masih ada di pusat kota , terdapat kawasan tempat tinggal warga paris keturunan India , yang menunjukkan keberagaman etnis penduduk Paris , selain kawasan keturunan imigran Maroko, Alzajair, Italia, dan Cina. Memasuki kawasan India ini, sejenak saya lupa kalau kaki saya masih menapak di jalanan Paris , ibukota Perancis. Melihat toko, restoran dan orang-orang yang memenuhi jalan dan berpapasan dengan saya di kawasan padat ini, seolah olah saya sedang berada di salah satu kota di India . Beberapa toko musik dan film yang menjual VCD dan CD memasang poster dan nama Shah Rukh Kan dan aktris/ actor India terkenal lainnya. Lagu India yang pernah saya dengar di film India yang diputar di Indosiar, terdengar familiar di telinga saya. Beberapa ibu masih menggunakan lilitan sari di tubuhnya lewat di depan saya. Saya berhenti di salah satu restoran vegetarian India di ujung jalan. Restoran yang kecil ini tidak hanya dipenuhi oleh warga keturunan India , tetapi juga warga Paris lainnya. Suasana di sini tidak jauh beda dengan suasana kota di India , hanya saja yang membuat saya tersadar saya masih ada di Paris, saat pelayan restoran yang asli orang India menawarkan buku menu dalam Bahasa Perancis dengan aksen Indianya. Selain kawasan India , ada pula kawasan Pecinan di kota Paris dan kota lainnya. Ada satu kawasan Pecinan yang terkenal di Paris, yaitu Place D’italie (walaupun di kawasan pemukiman ini terdapat juga banyak keturunan Italia). Di Place D’italie yang letaknya agak ke selatan di kota paris, banyak terdapat rumah makan cina dan supermarket yang dikelola warga keturunan Cina, Tan Frere. Saya sempat makan siang beberapa waktu yang lalu di salah satu restoran yang ramai, namanya Hawaii , sup ikannya yang lezat benar-benar membuat saya selalu ingin kembali ke kawasan itu. Setelah beberapa hari berkeliling di kota Paris , rasanya sayang juga kalau sudah bermil-bermil dan berjam-jam terbang dari Jakarta ke Eropa tanpa bermain-main di taman bermain Paman Walt Disney. Yup betul! Pagi ini saya sudah siap untuk pergi ke Disneyland Resort Paris. Walaupun di setiap papan iklan. T shirt, topi dan souvenir lainnya mereka menyebut tempat ini “Disneyland Resort Paris”, tetapi sebenarnya Disneyland bukan bagian dari district Paris (yang mempunyai kode 95) melainkan District Marne La Vallee. Untuk mencapai Disneyland yang dibangun di areal yang dulunya hutan di pinggiran Paris , pengunjung dari Paris dapat menggunakan Kereta RER A dari Stasiun St. Lazare atau Chatelet Les Halles di Paris atau bisa mengendarai mobil selama kurang lebih 40 menit. Jam operasi Disneyland dimulai dari jam 10 pagi dan tutup pada jam 8 malam. Metro yang saya tumpangi sempat berhenti di Stasiun terdekat sebelum Disney, Val D’europe. Menurut keterangan remaja putri setempat yang duduk di sebelah saya, kalau mau berbelanja bisa datang ke pusat perbelanjaan terbesar di District Marne la Vallee, Val D’Europe, di sana juga ada butik resmi souvenir Disney. Oia, tiket masuk Disneyland yang seharga 36 Euro (setara Rp 376.000,-) itu selain bisa diperoleh di Disney, kita bisa juga membeli di Carrefour, dan untuk lebih murah, sebaiknya membeli tiket selambat-lambatnya 5 hari sebelumnya, uang yang kita bayar tidak terlalu mahal, hanya 28 Euro. Setelah memasuki “Main Street USA”, pengunjung bisa bersenang-senang di keempat areanya, yaitu : Frontierland, Discoveryland, Adventureland, dan Fantasyland. Percayalah saya rasa, waktu sekitar 10 jam itu sama sekali tidak cukup untuk bisa puas mencoba semua wahana yang ada di keempat area tersebut belum lagi antrian yang cukup panjang di tiap-tiap wahana. Maka sebelum saya berangkat ke sini saya sempatkan diri untuk melihat website mereka , dan setelah melihat semuanya, saya putuskan untuk mencoba wahana Indiana Jones, Pirates of the Carabean, Big Thunder Mountain, Phantom Manor (sejenis rumah hantu), Space Mountain : Mission 2, Cherie, j’ai retreci le public (masih ingat film Amerika : ‘Honney, I shrunk the Kids”?), Peter Pan’s Flight, It’s small world. Buzz Lightyear laser Blast

No comments:

Post a Comment