Monday, June 29, 2009

menerima saya apa adanya

Kalimat ini sering diucapkan orang ketika ditanya apa kriteria calon pasangan hidup, jawaban persisnya bisa bervariasi, namun pada intinya kalima yang meluncur dari mulut seperti sesuatu yg lumrah dan sudah dihapal lidah adalah, "sebenernya sih ga susah-susah, saya cuma mencari orang yang menerima saya apa adanya, itu aja kok." Saya termasuk orang yang juga mempunyai jawaban standar seperti itu ketika ada orang yang iseng bertanya, kenapa juga saya masih belum kirim-kirim undangan dan pasang tenda biru (halah kok dessy ratnasari banget yak ^_^)..keliatannya simple dan sangat berbudi luhur..."menerima saya apa adanya" Tapi stelah saya pikir-pikir, "menerima saya apa adanya" itu menjadi kriteria yang menyulitkan juga. contoh nyatanya, sudah beberapa tahun ini saya berhubungan atau sekedar dating dengan beberapa lelaki, dan karena kriteria yg keliatannya gampang tadi, "menerima saya apa adanya", jadi nya malah menyebabkan saya kehilagan energi jika ternyata, setelah dating beberapa kali atau berada dalam hubungan serius dengan lawan jenis, saya tahu orang ini tidak akan bisa menerima saya apa adanya, dan begitu juga saya tidak bisa menerima dia apa adanya. Ditambah rumit lagi, karena ingin selamat dunia akhirat, saya tentunya ingin mempunyai calon pasangan hidup yang beragama sama, selain karena hal itu diatur di KItab SUci agama saya, saya pikir saya tidak ingin bermasalah ketika membesarkan anak kelak, harus ada 1 visi dan mis yang sama, dan anak tidakk boleh bingung mau pilih agama mana yang tidak membuat orang tuanya sedih. Nah, masalahnya, selama ini banyak lelaki yang mendekati saya justru berlatar belakang agama yang beda. Sekarang justru lebih parah, karena saya berada di negara non muslim, negara sekuler. setiap kali saya dating, semuanya berjalan dengan lancar, hingga sampai pada pembicaraan agama (waddaw, kenapa baru dating bbrp kali, malah dating pertama mereka sudah ribut bertanya agama saya??) saya lihat ada reaksi "bagaimana gitu" (hehhe) di mata mereka, reaksi kaget dan kecewa yg sempat tertangkap mata saya di mata lawan bicara saya walopun reaksi itu berjalan cukup singkat hanya 1 detik.... Itu masalah yang mendasar, agama. Masalah lainnya misalanya saya lihat kebiasaan dari si lelaki yang tidak saya sukai, saya sudah ill feel... Ya Tuhan...ternyata hal ini mengajarkan saya, jangan asal ngomong, "menerima saya apa adanya" Mungkin juga kalau saya belum menemukan si belahan jiwa, sifat saya --yg tentunya saya mengkambinghitamkan zodiak saya, Virgo-- yang perfeksionis ini turut membawa andil. Saya sendiri belum membuka diri dan kurang sabar untuk melihat sisi-sisi lain yang bagus dari dia (karena entah kenapa, saya merasa "sangat tertekan" secara sosial karena belum menikah dan bertemu 1 orang di bumi ini yang benar-benar mencintai saya?), atau dia juga kurang sabar dan kurang berusaha untuk memperlihatkan sisi-sisi dia yang mungkin nantinya menarik di mata hati saya?? Saya sadar, karakter saya yang unik, sebenarnya sih kata kaka-kakak saya cenderung aneh, tentunya membutuhkan lelaki yang benar-benar pengertian yang lebih mature dari saya untuk bisa sabar dan berani berkata, "Sari, saya menerima kamu apa adanya" Atau memang belum waktunya saja saya menemukan si belahan jiwa sehingga kedua belah pihak belum bisa tokcer langsung bisa memutuskan, saya bisa menerima dia apa adanya?

No comments:

Post a Comment